
"Ma-mati lampu?" Hana memundurkan tubuhnya. Tangannya mulai meraba-raba mencari sesuatu yang dapat ia pegang. Tubuhnya pun mulai bergetar saat tak ada satu pun barang yang dapat ia gapai. Hana semakin dibuat ketakutan saat suara petir terdengar kembali namun lebih keras dari sebelumnya.
Hana semakin memundurkan tubuhnya dengan tangan yang masih meraba-raba. Ia memerlukan sebuah pegangan di saat seperti ini. Namun sialnya keberuntungan tak berpihak kepadanya karena lagi-lagi tidak ada barang yang dapat ia pegang.
"Hiks..." Hana mulai menangis. Keadaan seperti saat ini selalu membuat tubuhnya lemah karena ketakutan. Hana mencoba menggunakan instingnya untuk berjalan ke arah ranjang. Setidaknya di atas ranjang masih ada selimut yang bisa ia pegang.
Bruk
Belum sempat tubuhnya sampai di dekat ranjang, Hana sudah terjatuh karena kakinya tersandung koper yang ia letak tak jauh dari ranjang. "Sakit sekali... hiks..." rintih Hana sambil menangis terduduk di atas lantai.
Duar
Suara guruh yang keras membuat tubuh Hana terkejut. Hana mencoba untuk bangkit, namun sayang tenaganya mulai hilang karena ketakutannya. "Mama... tolong Hana..." Hana mulai menangis tersedu-sedu. Sosok wanita yang dicintainya itu terlintas di benaknya. Sejak kecil dulu Mama Rita lah yang selalu menenangkannya jika dalam kondisi seperti saat ini.
Walau sudah mencoba untuk membiasakan diri tidak takut dengan gelap semenjak ia sering ditinggalkan oleh Mama dan Papanya dulu namun tetap saja ketakutan di tubuh Hana tak hilang sepenuhnya. Terlebih saat ini ia sedang berada di ruangan yang begitu besar hingga ia merasa kosong dan sendiri.
"Di-dika..." bibir Hana bergetar menyebut nama pria yang beberapa tahun lalu turut andil menenangkannya dalam keadaan seperti ini. "Hiks... aku takut..." Hana menjatuhkan wajahnya di kedua kakinya yang ia tekuk.
*
"Dika, apa kau tahu Hana ada di mana?" Wajah Mama Puspa terlihat cemas menatap pada Dika.
Kedua bola mata Dika membeliak. "Apa maksud Mama? Bukankah Hana sudah ada di rumah?" Tanya Dika dengan suara sedikit keras sangking terkejutnya.
Mama Puspa menggelengkan kepalanya. "Hana belum kembali sejak sore tadi. Mama sudah beberapa kali mencoba menghubungi nomor ponselnya namun nomornya tidak aktif." Jawab Mama Puspa dengan wajah semakin cemas mendengar ucapan Dika.
Dika segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Jemarinya dengan cepat melakukan panggilan telefon ke nomor Hana. Namun yang ia dapatkan hanyalah jawaban dari operator yang menyatakan nomor Hana sedang berada di luar jangkauan.
"Ke mana dia?" Gumam Dika dengan wajah yang mulai cemas. Dika ingat dengan jelas jika sore tadi ia melihat Hana sudah pulang menggunakan taksi online. Pikirannya pun mulai menebak-nebak ke mana istrinya itu pergi.
"Kyara, Rania." Dika segera menghubungi nomor Gerry untuk menanyakan istrinya. Setelah mendapatkan jawaban Gerry yang menyatakan jika Hana tidak ada di rumahnya, Dika pun segera menghubungi William. Namun jawaban yang sama yang ia dapat. Dika semakin cemas mengetahui istrinya tidak ada di rumah kedua sahabatnya.
"Ke mana dia pergi?" Dika kembali berpikir. Namun otaknya terasa buntu menebak ke mana istrinya pergi mengingat tidak ada lagi tempat yang mungkin Hana tuju karena Anin dan Amel pun tidak lagi tinggal di kota yang sama dengan mereka.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊