
Sampai di depan rumahnya, Dika terlihat terburu-buru memasuki rumah bahkan melewatkan sapaan pelayan yang menyapanya. Kakinya terus melangkah hingga masuk ke dalam kamarnya.
Ting
Suara notifikasi di ponselnya yang terus berbunyi tak membuat Dika memperdulikannya. Dika terus melangkah hingga kini tubuhnya tepat berada di depan lemari. Beberapa helai pakaian nampak Dika tarik dari dalam lemari lalu memasukkannya ke dalam koper yang baru saja ia ambil dari atas lemari.
"Sudah cukup, Hana. Jangan lagi bertingkah bodoh!" Jemari Dika kembali terkepal saat mengingat betapa bodohnya Hana yang termakan ucapan Liza. Namun di balik itu semua Dika kini sudah memahami jika Hana sama seperti wanita pada umumnya yang akan merasa kecil saat berada di dekatnya yang memiliki derajat kekuasaan yang cukup tinggi.
Dika paham bagaimana Hana berkecil hati waktu itu. Dan alasan itulah yang membuatnya selama ini berupaya menutupi siapa jati dirinya yang sebenarnya. Dan benar saja, setelah Hana mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya, wanita itu dengan mudahnya terhasut ucapan orang lain dibandingkan dirinya yang pasti tidak akan memandang derajat di antara mereka.
Ting
Ting
Ting
Notifikasi deretan pesan masuk kembali mengusik pendengarannya. Dika menghembuskan nafas kasar di udara lalu berjalan ke arah ranjang dimana tadi ia sempat melemparkan ponselnya di sana.
"Gerry? William?" Kening Dika mengkerut melihat betapa banyaknya foto yang dikirimkan Gerry dan William secara bergantian ke dalam ponselnya. Saat Dika sudah membuka room chat khusus mereka, jantung Dika seakan berhenti berdetak saat itu juga setelah melihat apa maksud foto yang dikirimkan kedua sahabatnya.
Deg
"Hana... istriku Hamil?" Genggaman tangan Dika semakin erat pada benda persegi empat di tangannya.
Dika menggelengkan kepalanya. Kembali ia tatapan sebuah foto yang memperlihatkan dua buah tespek yang memperlihatkan dua garis merah milik Hana beserta buku kontrol kandungan Hana.
Deg
"Hana..." hembusan nafas Dika terdengar tak beraturan. Dan kini tubuhnya luruh begitu saja di atas lantai saat melihat foto terakhir yang memperlihatkan Hana tengah dirawat di salah satu rumah sakit di kota Mamanya tinggal saat ini.
Dika mengusap kasar wajah tampannya. Ingatannya kembali berputar dengan kondisi Hana beberapa minggu belakangan ini yang terlihat menunjukkan gejala di awal kehamilan. Egonya yang terlalu tinggi akibat rasa kecewanya yang terlalu besar membuatnya mengabaikan hatinya yang ingin menebak sakit istrinya saat itu.
Dika menggeram frustasi. Tak ingin larut dalam penyesalannya, Dika pun bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah kopernya yang belum tertutup. Setelah mengunci kopernya, Dika pun menariknya lalu membawanya keluar dari dalam kamar.
"Hana... maafkan aku." Lirih Dika saat sudah mulai menjalankan mobilnya. Dika tak memperdulikan waktu yang saat ini menunjukkan pukul sepuluh malam dan kondisi tubuhnya yang sudah cukup lelah akibat bekerja seharian. Saat ini tujuannya hanya satu yaitu menghampiri istrinya yang sangat membutuhkan dukungan darinya saat ini.
"Maafkan aku, Hana... maafkan aku..." Dika semakin menambah kecepatan mobilnya. Tidak ia hiraukan beberapa banyak orang di dalam mobil yang ia salip tengah mengumpatnya dengan peringatan suara klakson mobil. Saat ini ia hanya ingin cepat sampai di kota tempat mertuanya tinggal dan memohon ampun atas kebodohannya pada istrinya.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.