
Terlalu banyak rasa sakit yang Hana rasakan dua tahun belakangan ini setelah pertemuannya kembali dengan Dika. Walau pun hatinya merasa senang sebab dapat melihat wajah Dika dari dekat kembali, namun Hana tak dapat membohongi hatinya yang terluka setiap melihat tatapan kebencian dari Dika untuknya.
Walau sudah selalu berusaha menerima kebencian dari Dika, namun usahanya selalu berakhir sia-sia dan pada akhirnya Hana hanya bisa menangisi sakit di dadanya seorang diri di kamar apartemennya.
"Dika... apa begitu dalam luka yang aku torehkan di hatimu hingga kebencian mendalam-lah yang kini menjadi imbalan atas perbuatanku?" Hana menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Balkon yang ukurannya cukup sempit di apartemennya Hana pilih menjadi tempat mengisi kekosongannya malam ini.
Ingatan Hana pun melayang pada kejadian beberapa tahun lalu saat ia masih menempuh pendidikan di fakultas kedokteran dengan Dika. Kenangan manis mereka selama menjalin kasih membuat kedua sudut bibir Hana tertarik sempurna. Hana tak dapat melenturkan senyumannya saat mengingat betapa manisnya sikap Dika padanya di balik wajah dingin dan kakunya. Kenangan-kenangan manis itu semakin berputar di benaknya hingga berganti dengan rasa pahit yang ia rasakan saat ini dengan Dika.
"Amel... Anin... andai saja kalian ada di sini saat ini. Aku sangat ingin bercerita bagaimana hancurnya hatiku saat ini." Tanpa sadar satu tetas air mata jatuh di pipi Hana. Mengingat kedua sahabat baiknya yang kini sudah tinggal jauh darinya menambah rasa kesepian di hidup Hana. Apa lagi saat ini Amel dan Anin sudah memiliki keluarga masing-masing. Waktu mereka pun akhirnya mulai berkurang untuk mendengarkan keluh kesah Hana beberapa tahun belakangan ini.
Dinginnya udara malam yang semakin menusuk ke dalam pori-pori kulitnya membuat Hana memutuskan untuk masuk ke dalam apartemennya. Malam ini sudah cukup waktunya terbuang untuk mengenang masa lalunya yang manis dengan Dika sebelum esok hari ia sudah harus kembali mendapatkan tatapan tak mengenakkan dari wajah pria yang sampai saat ini masih memenangkan hatinya.
*
"Apa?! Kyara akan melahirkan?" Hana dibuat terkejut mendengar ucapan Fitri yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dan memberitahu jika teman baiknya akan melahirkan pagi ini.
"Benar Dokter... Nona Kyara baru saja sampai di rumah sakit satu jam yang lalu bersama Tuan Gerry." Jelas Fitri.
Hana segera bangkit dari duduknya. "Aku harus menemui Kyara sekarang juga." Ucap Hana memasang wajah cemas. Hana pun keluar begitu saja dari dalam ruangannya tanpa memperdulikan alas kakinya saat ini yang hanya menggunakan sendal jepit.
"Kyara akan melahirkan. Huh, huh." Hana mengatur nafasnya lebih dulu sebelum masuk ke dalam ruangan persalinan.
Saat baru saja masuk ke dalam ruangan persalinan, Hana dibuat terkejut melihat bentuk penampakan Gerry saat ini.
"Oh ya ampun..." lirih Hana lalu melipat bibirnya agar tidak tertawa melihat penampilan Gerry yang begitu kacau.
"Sayang... tenanglah... ini sungguh sakit!" Gerry berteriak kesakitan saat lengannya menjadi bahan pelampiasan Kyara menyalurkan rasa sakitnya.
"Huh, huh, sakit..." Kyara merintih kesakitan saat bayinya memaksa ingin keluar.
"Baby... Papa mohon untuk tenang..." Gerry mengelus perut Kyara dengan sebelah tangannya yang bebas saat gigitan Kyara di lengannya semakin kuat.
"Gerry... Kyara..." Hana berjalan mendekat ke arah ranjang Kyara hingga perhatian suami-istri itu kini teralihkan kepadanya.
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹