Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tidak bisa menolaknya


"Apa? Dika telah menerima tiket bulan madu yang diberikan Gerry?" Wajah Hana nampak terkejut.


Kyara menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Hana. "Terimalah Hana. Hanya ini yang dapat aku berikan sebagai hadiah pernikahanmu." Kyara tersenyum penuh harap. Melihat senyuman itu membuat Hana merasa sungkan untuk menolaknya. "Ini..." Kyara mendorong tiket di tangannya ke arah Hana.


Hana dengan ragu menerimanya. Sungguh ia sangat sulit menolak keinginan wanita berhati lembut seperti wanita di depannya saat ini. "Terimakasih, Kya." Ucap Hana sambil mengangkat tiket di tangannya ke udara.


Kyara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Semoga saja dengan keberangkatan kalian untuk bulan madu hubungan diantara kau dan Dika akan semakin dekat dan membaik." Tutur Kyara.


Hana tertegun. Entah mengapa ia dapat menangkap sorot mata Kyara yang seperti tengah mengetahui sesuatu tentangnya. "Semoga saja. Sekali lagi terimakasih, Kya." Hana tersenyum lembut.


"Sama-sama. Kalau begitu aku pamit pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan Rey dan Rachel." Tuturnya.


"Baiklah. Aku mengerti. Ayo aku antar ke depan." Hana bangkit dari duduknya diikuti Kyara.


"Ayo." Balas Kyara tak ingin menolak ajakan Hana.


*


Setelah mengantarkan Kyara sampai di lobby rumah sakit, Hana pun kembali berjalan menuju ruangannya. Di tengah perjalanan, ia berselisih jalan dengan Dika yang ingin berjalan menuju lobby bersama Dokter Roy.


"Dokter Roy, Dokter Dika." Hana memberikan sapaan seraya tersenyum manis.


"Hai Dokter Hana." Dokter Roy sejenak menghentikan langkahnya. Membalas senyuman Hana tak kalah manis sedangkan Dika hanya diam dengan wajah datarnya.


Dokter Roy dan Dika pun kembali berjalan Setelah membalas sapaan Hana. Sedangkan Hana masih berdiam diri di posisinya.


"Sepertinya ada baiknya aku menerima tawaran tiket dari Kya dan Gerry. Dengan begitu aku bisa jauh dari dedemit yanga ada di rumah mertuaku walua hanya beberapa hari." Gumam Hana. Untuk masalah Dika ia tidak terlalu memikirkannya. Yang pasti suaminya itu akan bersikap sama kepada dirinya mau dimana pun mereka berada. Pikirnya.


*


"Hana, apa kau ingin pulang?" tanya Arka dengan tersenyum manis.


Hana menganggukkan kepalanya seraya ikut tersenyum manis. "Apa Kakak juga ingin pulang?" Tanya Hana.


Arka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku lihat kau tidak membawa mobilmu. Bagaimana kalau aku mengantarkanmu untuk pulang?" Tawar Arka.


Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Kak. Kebetulan aku sudah memesan taksi online." Balas Hana.


"Agh, sayang sekali. Baiklah kalau begitu. Jika tidak bisa pulang bersama, kita bisa jalan bersama sampai ke depan rumah sakit bukan?" Tanya Arka dengan menaikkan sebelah alis matanya.


Hana menanggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kemudian mereka pun berjalan beriringan seraya berbincang ringan keluar dari dalam rumah sakit.


"Lain kali kau tidak boleh menolak ajakanku untuk pulang bersama." Ucap Arka saat mereka telah berada di depan rumah sakit.


Hana hanya tersenyum menanggapi ucapan Arka karena ia tidak bisa langsung mengiyakan ucapan Arka mengingat perintah dari suaminya yang melarangnya tidak boleh terlalu dekat dengan pria mana pun selain dirinya.


Di dalam sebuah mobil yang baru saja memasuki perkarang rumah sakit, seseorang di dalamnya terlihat tengah mengepalkan kedua tangannya melihat kedekatan Hana dan Arka.


Wanita keras kepala! Apa dia tidak bisa mengingat ucapanku tadi pagi?!


***


Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊