
Mendengar suara Dika, Hana pun mendongak menatap wajah Dika yang kini menatanya tidak ramah.
"Maaf, saya tidak melihat jalan tadi Dokter Dika." Ucap Hana berusaha untuk formal. Hana pun bangkit sambil menepuk celananya yang sebenarnya tidak kotor.
Dika terdiam. Matanya dapat menangkap jika saat ini Hana tengah menahan kegugupannya berada di dekatnya.
"Jika kau tidak bisa berjalan dengan benar, lebih baik kau menggunakan matamu untuk melihat jalan bukan untuk melihat ponsel." Cecar Dika. Dika pun berlalu begitu saja tanpa menunggu Hana membalas perkataannya.
"Aku membutuhkan mataku untuk melihat ponsel dan melihat jalan." Balas Hana. Hana pun menghembuskan nafas bebas di udara guna menguatkan hatinya mendapatkan sikap dingin Dika. "Aku oke... tak masalah..." ucapnya pada dirinya sendiri. Hana mengecek kondisi ponselnya yang untungnya baik-baik saja setelah terjatuh. Lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari parkiran.
*
"William, aku sungguh kasihan pada Hana yang selalu mendapatkan perilaku dingin dari Dika." Ucap Rania sambil mengelus dada bidang william.
William menatap wajah Rania yang nampak bersedih. "Aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Tapi apa yang dirasakan Hana saat ini akibat sikapnya di masa lalu yang meninggalkan Dika begitu saja." Terang William.
Rania bangkit dari pembaringannya dengan susah payah sebab perutnya yang besar. "Walau pun begitu, Dika tidak sepantasnya sedingin itu pada Hana. Aku dapat merasakan jika Hana adalah wanita baik. Dan aku yakin Hana memiliki alasan yang kuat meninggalkan Dika waktu itu. Apa lagi Hana sempat bercerita jika dia menjalin hubungan khusus dengan pria terakhir kali sejak kuliah." Balas Rania.
William terdiam beberapa saat mencerna ucapan istrinya. "Apa mungkin Hana meninggalkan Dika karena ada sesuatu hal yang disembunyikannya?" William menebak-nebak.
"Mungkin saja. Hana tidak mungkin meninggalkan Dika begitu saja tanpa sebab." Timpal Rania.
Rania menghadapkan tubuhnya pada William yang kini ikut bangkit. "William, kau san Gerry harus cepat melakukan sesuatu cara agar Hana dan Dika kembali bersama. Aku tahu jika Hana dan Dika itu masih saling mencintai. Aku sungguh kasihan pada Hana yang sampai saat ini masih sendiri di antara teman-temannya yang sudah menikah dan memiliki anak. Aku harap Hana dapat menikah sebelum usianya genap tiga puluh tahun." Pinta Rania.
Tangan William terulus mengelus rambut istrinya. "Aku akan mengabulkan permintaanmu. Untuk saat ini kau jangan terlalu banyak pikiran. Sama halnya denganmu, aku dan Gerry juga ingin Dika dan Hana segera menikah. Apa lagi saat ini umur Dika sudah tiga puluh tahun. Aku tidak ingin sahabatku menjadi bujang lapuk." Seloroh William di akhir ucapannya.
Rania menepuk pundak William. "Apa bedanya denganmu? Kau juga dulunya bujang lapuk." Cibir Rania.
William menarik tengkuk Rania lalu mencium bibir Rania gemas. "Sekarang aku tidak lagi bujang lapuk kerena aku sudah menikahimu. Bahkan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah." Ucap William.
"Ya, ya. Kau terlalu bujang lapuk untuk aku yang masih daun muda." Seloroh Rania.
"Kau... beraninya kau mengataiku seperti itu." William yang merasa gemas dengan istrinya pun memeluk erat tubuh Rania walau terhalang dengan perut besar istrinya.
"Haha..." Rania tertawa-tawa lalu membalas pelukan William. "Jadi kapan kau akan memikirkan cara untuk mempersatukan mereka kembali?" Tanya Rania setelah pelukan mereka terlepas.
"Tunggu saja, sebentar lagi aku pastikan mereka akan menikah." Ucap William dengan seringaian licik di bibirnya.
***
Kira-kira William mau lakuin apa ya hingga akhirnya membuat Hana dan Dika harus menikah?