Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Berat untuk menahannya


Dengan hati-hati Dika menurunkan tubuh Hana di dalam bathup yang sudah ia isi air sebelum keluar dari dalam kamar mandi. "Apa kau bisa mandi sendiri?" Tanya Dika menatap wajah Hana.


"Pergilah. Aku bisa membersihkan tubuhku sendiri." Balas Hana menahan malu yang teramat di hatinya.


Dika mengangguk lalu membalikkan tubuhnya keluar dari dalam kamar mandi. Sangat ingin Dika membantu istrinya itu membersihkan tubuhnya. Namun niat itu ia urungkan karena ia tidak akan bisa menahan has-ratnya jika berada dekat dengan Hana dengan posisi seperti saat ini.


Di dalam bathup, Hana menatap punggung Dika yang semakin menjauh darinya. "Syukurlah dia sudah pergi. Aku sungguh malu sekali." Hana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dapat ia rasakan saat ini wajahnya terasa panas akibat rasa malu yang ia rasakan.


Di luar kamar mandi Dika mengatur nafasnya yang sudah tak beraturan sebab melihat bagaimana bentuk polos istrinya tadi. Terlebih banyaknya bekas percintaan di tubuh istrinya membuat has-ratnya kembali naik ingin mengulang percintaan panas mereka. Jika tidak mengingat istrinya yang masih kesakitan akibat ulahnya, Dika pasti tidak membuang kesempatan untuk menerkam istrinya kembali di kamar mandi.


Saat berada dekat ranjang untuk mengambil pakaiannya, pandangan Dika jatuh pada sprai yang terdapat bercak darah yang berserakan di sekitar Hana berbaring tadi malam. Sebelah sudut bibir Dika tertarik ke samping. Dan lagi ia merasa bahagia karena menjadi pria pertama yang menyentuh istrinya. Dika pun memakai handuknya kembali lalu membuka sprai dan menggantinya dengan yang baru.


*


Tiga puluh menit berlalu, Hana keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah pelan. Ditatapnya Dika yang kini sedang sibuk dengan ponsel di tangannya. Hana menghela nafas lega karena suaminya itu seperti tidak perduli dengan keberadaannya yang sudah keluar dari dalam kamar mandi. Ia pun berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.


"Ayo keluar." Ajak Dika setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Keluar kemana?" Tanya Hana dengan kening mengkerut.


"Apa kau tidak ingin mengisi perutmu?" Tany Dika. Wajahnya sangat datar dan kaku seperti tidak ada terjadi kejadian apa-apa di antara mereka.


Hana menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Ayo keluar. Aku sungguh lapar." Balas Hana.


"Apa kau bisa berjalan dengan benar?" Tanya Dika menatap bagian inti Hana.


Wajah Hana memanas. "A-aku sulit untuk berjalan." Balas Hana jujur dengan kepala tertunduk.


"Dia mau kemana? Apa dia ingin sarapan tanpa membawaku?" Hana dibuat bingung dengan sikap suaminya itu.


Lima belas menit berlalu pelayan hotel pun datang membawa makanan untuk mereka. Namun Dika tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Dika sebenarnya kemana? Kenapa dia tidak kunjung kembali?" Gumam Hana. Hana pun memilih duduk di atas sofa tanpa menyentuh sarapan pagi untuknya.


Ceklek


Suara pintu kamar yang terdengar terbuka membuat perhatian Hana teralihkan ke sumber suara. "Dika, kau sudah kembali?" Tanya Hana namun Dika tidak menjawabnya.


Dika melangkah mendekat pada Hana lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik kecil yang dibawanya.


"Apa itu?" Tanya Hana dengan kening mengkerut.


"Buka pakaian dalammu." Titah Dika.


"A-apa? Kenapa aku harus membuka pakaian dalamku?" Wajah Hana berubah takut.


***


Lanjut? Ayuk berikan dukungannya dulu dengan cara vote, gift komen dan likenya ya🌹


Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_