
Dika melerai pelukannya lalu kembali memasang wajah datarnya. "Kalau begitu Dika menyusul ke ruangan perawatan Hana dulu." Pamitnya.
"Mama ikut." Balas Mama Puspa cepat.
"Papa juga." Timpal Papa Indra.
"Kami juga." Sahut Gerry dan William.
Dika menghela nafas lalu berjalan lebih dulu menuju ruangan perawatan Hana. Di belakang Dika, Gerry dan William nampak saling menahan tawa mengingat wajah Dika saat menangis di pelukan Mama Puspa.
"Kau lihat tadi, kulkas dua belas pintu menangis." Ucap William pelan.
Gerry tertawa kecil. "Aku melihatnya. Itu sungguh menggelikan jika dilakukan oleh pria sepertinya. Namun karena tangisannya itu efek dari lahiran Hana, itu berubah menjadi lucu." Balas Gerry.
William mengangguk membenarkan. Mereka pun terus berjalan sambil saling melepar candaan karena Dika. Saat sudah masuk ke dalam ruang perawatan Hana, Dika langsung menahan tubuh Gerry dan William.
"Ada apa ini?" Tanya Gerry merasa bingung.
"Ya, kenapa kau melarang kami masuk?" Tambah William.
"Tunggu di sini. Istriku sedang menyusui bayi-bayi kami." Jelas Dika.
Gerry dan William saling pandang lalu menghela nafas bersamaan.
"Kami akan duduk di sana dan berjanji tidak akan melihat." Ucap Gerry menunjuk sofa yang ada di sudut ruangan.
Dika mengikuti arah pandangan Gerry lalu kemudian mengangguk. "Duduklah." Ucapnya lalu melangkah mendekat pada ranjang Hana.
"Dasar suami posesif." Cibir William setelah duduk di atas sofa.
"Kau juga." Timpal Gerry.
"Kenapa aku?" Tanya William dengan kening mengkerut.
"Kau lupa jika kau juga suami posesif?" Cibir Gerry.
William menggaruk keningnya yang tak gatal. Tidak dapat ia pungkiri jika ia pun pernah berada di posisi Dika saat ini. "Apa bedanya denganmu?" Ucap William kemudian mengingat sikap Gerry.
Gerry mendengus lalu mengangguk membenarkan. "Sesama posesif dilarang saling menghina." Ucapnya memutus perdebatan kecil di antara mereka.
"Cucu-cucu Mama sungguh lucu sekali." Ucap Mama Rita menatap haru kedua cucunya yang kini sudah tertidur di box bayi masing-masing.
Mama Rita mengalihkan pandangan pada Mama Puspa lalu mengangguk membenarkan. "Lihatlah wajah mereka sangat mirip dengan Dika." Ucap Mama Rita kemudian.
"Kau benar. Mereka sangat mirip dengan Dika waktu masih kecil. Sungguh lucu dan menggemaskan." Balas Mama Puspa.
"Mereka bahkan tidak menyisakan sedikit kemiripan dengan Hana." Ucap Mama Rita seraya tersenyum lucu.
"Ya. Saat ini wajah mereka sangat mirip dengan Dika. Namun tidak tahu untuk beberapa hari dan bulan ke depan. Karena wajah mereka bisa saja berubah-ubah." Balas Mama Pupsa.
"Ya. Itu mungkin saja terjadi." Ucap Mama Rita seraya tersenyum.
Di atas ranjang, Hana terlihat tak sedikit pun menyurutkan senyumannya menatap kedua bayinya. "Anak-anak kita." Ucapnya menatap pada Dika.
Dika tersenyum mendengarnya. Tangannya pun semakin erat menggenggam sebelah tangan Hana yang tidak tertancap jarum infus.
"Apa kalian sudah memberi nama untuk kedua bayi kalian?" Tanya Rania yang sejak tadi turut tak melepas pandangan dari kedua bayi lucu itu.
Hana dan Dika mengangguk.
"Benarkah begitu? Lalu siapa nama mereka?" Tanya Rania.
"Kami akan mengumumkannya saat acara syukuran kelahiran mereka." Balas Hana seraya tersenyum.
"Agh, baiklah. Ternyata kalian ingin mengikuti jejak kami." Ucap Rania mengingat dirinya dan William yang juga baru memberitahu nama anak mereka saat acara syukuran kelahiran Baby Flo.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.