
"A-apa?" Hana dibuat terkejut mendengar ucapan Mamanya.
"Hana, ayo ceritakan!" Mama Puspa terlihat tidak sabar mendengar jawaban menantunya.
"I-itu...." Hana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mungkin ia menceritakan dengan rinci bagaimana Dika menyentuhnya hingga membuatnya melayang dan tidak dapat berkata-kata. Dan bagaimana pria itu mengurungnya di dalam kamar hingga ia tidak begitu menikmati liburannya selain bercinta.
"Agh sudahlah. Mama rasa kau begitu malu untuk mengatakannya." Mama Puspa menjauhkan tubuhnya dari menantunya seraya tersenyum kaku. Ia menyadari sikapnya yang sedikit berlebihan pasti membuat Hana malu untuk menceritakannya. "Sekarang lebih baik kau menyusul Dika ke dalam kamar dan istirahat." Lanjutnya kemudian seraya mengelus pundak Hana.
Hana terdiam sesaat lalu mengangguk. "Kalau begitu Hana pamit ke kamar dulu, Ma." Ucap Hana.
Mama Puspa mengangguk lalu tersenyum sebagai jawaban.
Hana pun bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah tangga untuk naik ke kamarnya.
"Kenapa Mama bertanya seperti itu? Membuat pipiku panas saja." Gumam Hana seraya memegang kedua pipinya. Kakinya terus melangkah hingga sampai di depan pintu kamarnya.
Ceklek
"Apa yang Mama bicarakan kepadamu?" Suara Dika yang terdengar tiba-tiba saat Hana baru memasuki kamar membuat Hana terkejut dan mengelus dadanya.
"Hanya pembicaraan singkat." Balas Hana.
Dika mendengus. "Apa Mama mempertanyakan sesuatu yang tidak-tidak kepadamu?" Tanya Dika.
Hana mengangguk lalu dengan cepat menggeleng. "Mama hanya bertanya apakah liburanku menyenangkan." Jawab Hana berbohong. Karena tidak mungkin ia mengulang kembali pertanyaan mertuanya yang bisa membuat pipinya merona.
Melihat ekspresi Hana yang gugup membuat Dika menyimpulkan jika istrinya itu tengah berbohong tentang percakapannya dan Mamanya. Dika tak lagi melanjutkan pertanyaan dan lebih memilih kembali fokus pada ponsel di tangannya yang sejak tadi bergetar.
Melihat respon Dika yang sudah tak lagi menghiraukannya membuat Hana memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membuang hajatnya yang sejak tadi ia tahan.
*
Ke esokan harinya.
"Fitri, ada apa?" Tanya Hana setelah Fitri berada di dekatnya.
"Tidak ada apa-apa, Dokter. Saya hanya merindukan Dokter Hana setelah empat hari tidak bertemu." Terang Fitri.
"Kau ini bisa saja." Hana menepuk pelan pundak Fitri. "Aku ini hanya pergi empat hari bukan empat tahun." Ucap Hana.
Fitri tersenyum. "Walau begitu saya tetap merindukan Dokter. Terlebih merindukan Dokter Dika yang juga tiba-tiba tidak masuk bekerja selama empat hari." Ucap Fitri dengan tersenyum tipis di akhir ucapannya.
Glek
Hana menelan salivanya susah payah mendengar ucapan Fitri. Entah mengapa ia merasa ada yang sedang disimpan dan diketahui Fitri saat ini tentangnya.
"Oh ya? Dokter Dika tidak masuk bekerja juga selama empat hari? Kebetulan sekali." Balas Hana dengan berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Untung saja ia memiliki bakat berakting hingga tidak sulit menghadapi situasi seperti saat ini.
"Benar, Dokter. Kebetulan sekali bukan?" Balas Fitri. Tatapan kini terlihat penuh menyelidik pada Hana.
Hana mengangguk membenarkan. Pandangan Hana pun beralih pada langkah kaki yang kini mendekat kearahnya dan Fitri.
"Hana... kau sudah kembali bekerja?" Tanya Arka.
Hana mengangguk seraya tersenyum.
"Empat hari tidak bertemu denganmu cukup membuatku merindukanmu." Ucap Arka dengan tersenyum.
"Kak Arka ini terlalu berlebihan." Balas Hana sedikit malu mendengar ucapan Arka.
"Aku tidak berlebihan. Aku memang merindukanmu." Ucap Arka lagi.
Hana hanya tersenyum sebagai jawaban. Mereka pun mulai terlibat percakapan singkat tanpa menyadari jika kini seseorang tengah menatap tajam ke arah mereka.
***