Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Apa kau yakin?


Pagi harinya Hana terbangun lebih dulu dari pada Dika yang masih nyaman terlelap dalam tidurnya. Hana dibuat terkejut melihat tubuhnya yang polos tanpa selembar kain pun. Hana menepuk jidatnya. Ia melupakan membersihkan tubuhnya lebih dulu dan langsung terlelap setelah percintaannya dan Dika yang berlangsung cukup lama menguras banyak tenaganya.


Hana melirik jam gantung masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Masih terlalu pagi untuk ia membangunkan Dika. Hana pun berniat membersihkan tubuhnya lebih dulu sembari menunggu Dika bangun dari tidurnya. Dengan hati-hati Hana menyibak selimut yang menutupi tubuhnya agar tidak membangunkan Dika. Baru saja kakinya hendak turun ke atas lantai, pergerakannya sudah terhenti akibat cekalan tangan Dika.


"Kau ingin kemana?" Tanya Dika dengan suara seraknya.


Hana menolehkan wajahnya pada Dika yang kini sudah membuka kedua kelopak matanya. Entah apa yang membuat suaminya itu terbangun. Padahal ia sudah begitu hati-hati bergerak agar tak membangunkannya.


"A-aku ingin membersihkan tubuhku." Balas Hana sedikit tergagap. Ia sungguh dibuat malu dengan tubuhnya yang polos terpampang nyata di depan Dika.


"Pergilah." Ucap Dika menatap intens pada Hana.


Hana memutus pandangan Dika dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Sungguh ia tidak sekuat itu menatap lama kedua bola mata pria yang sangat dicintainya itu.


"Baiklah." Balas Hana kemudian lalu mengutip satu persatu pakaiannya dan Dika yang berserakan di atas lantai. Tanpa memperdulikan lagi rasa malunya, Hana berjalan terburu-buru ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Sedangkan di atas tempat tidur, Dika menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan.


*


"Apa nasi gorengnya enak?" Tanya Hana saat sesendok nasi goreng buatannya telah masuk ke dalam mulut Dika. Setelah membersihkan tubuhnya tadi pagi, Hana memang memilih turun ke dapur untuk membuatkan nasi goreng untuk Dika dengan dibantu Mama Puspa tentunya.


Dika hanya mengangguk sebagai jawaban lalu melanjutkan memakan makanannya. Bibir Hana melengkung. Entah enak atau tidak, namun mendapat tanggapan baik dari Dika membuat hatinya cukup senang. Hana mengalihkan tatapannya pada Mama Puspa yang kini tengah menatapnya dengan tersenyum. Hana membalas senyuman itu lalu turut memakan nasi goreng buatannya.


Sepertinya aku harus lebih giat belajar memasak dengan Mama agar masakanku semakin enak. Tekad Hana dalam hati.


Setelah menghabiskan sarapan masing-masing, Hana dan Dika pun berpamitan pada Mama Puspa dan Papa Indra untuk pergi bekerja ke rumah sakit.


Dika mengangguk. Tatapannya lurus ke depan tanpa melirik Hana sedikit pun. "Jangan mempertanyakan lagi apa yang sudah aku jelaskan." Tekan Dika.


"Baiklah." Balas Hana. Ia tidak lagi berbicara walau begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan tentang maksud Dika mau mengantarkannya setiap berangkat bekerja. Niat itu ia urungkan karena tidak ingin merusak mood Dika di pagi hari seperti ini.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang hingga akhirnya sampai di depan pagar rumah sakit.


"Turunlah. Aku akan bekerja di perusahaan pagi ini." Ucap Dika.


Hana menolehkan wajahnya pada Dika. "Aku pikir kau akan bekerja di rumah sakit hari ini." Balas Hana.


"Jika ada panggilan darurat aku akan segera datang ke rumah sakit." Terang Dika.


Hana mengangguk saja lalu berpamitan untuk turun. Dika tak langsung melajukan mobilnya. Ia lebih memilih menatap kepergian istrinya hingga masuk ke dalam rumah sakit. Di belakang mobilnya, sebuah mobil nampak berhenti saat melihat Hana turun dari dalam mobil Dika.


"Bukankah itu mobil Dokter Dika? Kenapa Hana turun dari dalam mobil Dotker Dika?" Tanya seseorang yang berada di dalam mobil di belakang mobil Dika.


***


Lanjut? berikan vote, like dan komennya dulu yuk☺️


Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_ untuk mengetahui jadwal update☺️