Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Larangan untuk bekerja


"Bagaimana rasanya? Enak bukan?" Cibir Gerry saat Dika baru saja kembali dari dalam kamar mandi setelah memuntahkan sosis yang masuk ke dalam mulutnya setelah sejak tadi ia tahan. Untung saja saat ini Hana tengah pergi bersama Kyara ke kamar Baby Rachel hingga Hana tidak mengetahui jika Dika memuntahkan sosis yang tadi mereka makan.


Dika mendengus. Ia tatap Gerry dengan tajam. "Apa menurutmu ini lucu?" Tanya Dika.


Gerry mengangguk cepat. "Sungguh lucu jika dialami kulkas sepertimu." Masih saja ingin mencibir Dika.


Tatapan Dika semakin tajam. "Lain kali perbanyaklah diam dari pada kau menjadi biang dalam permintaan istriku." Sungut Dika mengingat Gerry turut andil dalam mengompori istrinya.


Gerry tertawa kecil. "Tidak akan. Menurutku tadi sungguh lucu dan aku ingin melihatnya kembali." Seloroh Gerry.


Dika kembali mendengus mendengar jawaban Gerry.


"Terlepas dari itu semua, kau harus bersyukur karena bisa menikmati peran sebagai suami yang baik saat istrimu hamil muda. Tidak sepertiku yang pernah menyia-nyiakan kesempatan itu saat Kyara hamil Rey." Ucap Gerry serius.


Dika menganggukkan kepalanya. "Aku paham dan aku senang melakukannya. Aku hanya tidak suka makanan itu saat masuk ke dalam mulut bahkan perutku." Jelas Dika.


"Ya, aku paham itu." Balas Gerry.


"Apa mereka akan lama di kamar Rachel?" Tanya Dika setelah melirik arlojinya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Sepertinya tidak. Rachel begitu mudah untuk ditidurkan kembali." Balas Gerry. Karena tujuan Hana dan Kyara ke kamar Baby Rachel untuk menidurkan kembali Baby Rachel yang terbangun.


Dika mengangguk paham lalu melangkah ke arah ruang tamu untuk menunggu Hana di sana.


"Dika..." belum sempat Dika mendaratkan bokongnya di atas sofa, suara lembut Hana memanggil namanya sudah menghentikan niatnya. "Ayo kita pulang." Ajak Hana.


"Apa kau sudah siap?" Tanya Dika.


Hana mengangguk. "Ayo." Ajaknya lagi.


Dika mengangguk lalu menatap pada Kyara. "Terimakasih untuk malam ini, Kya. Maaf telah merepotkanmu." Ucap Dika.


"Tidak ada yang direpotkan. Aku bahkan senang melakukannya." Balas Kyara.


"Ya. Hati-hati di jalan dan jangan lupa datang kembali ke sini." Balas Kyara dengan tersenyum lembut.


Dika menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku juga pamit pulang dulu. Terimakasih sosis bakarnya, Kya. Aku sangat menyukainya." Ucap Hana.


"Lain kali jika kau ingin kau bisa mengatakannya padaku. Aku dengan senang hati akan membuatkannya kembali." Balas Kyara.


"Agh, kau ini sungguh baik sekali." Hana tersenyum senang lalu memeluk tubuh Kyara barang sejenak.


"Ayo kita pulang." Dika menarik lembut tangan Hana.


Hana mengangguk lalu turut berpamitan pada Gerry. Setelahnya mereka pun berjalan keluar dari dalam rumah untuk pulang.


*


"Apa kau yakin masih tetap ingin bekerja dengan kondisi tubuhmu seperti saat ini?" Wajah Dika nampak tak setuju setelah mendengar ucapan Hana yang ingin langsung masuk bekerja esok hari.


"Ya. Kondisiku sudah semakin membaik dah aku siap untuk bekerja kembali. Lagi pula sudah terlalu lama aku mengambil waktu liburku." Jelas Hana.


"Tapi aku tidak mengizinkannya." Balas Dika dengan tegas.


"Tapi kenapa?" Hana pun melayangkan tatapan protes pada Dika.


"Apa kau tidak mengingat ucapan Dokter kandungan jika kondisi kandunganmu masih lemah? Dan apa kau ingin membahayakan mereka di dalam sana dengan terus bekerja?" Tanya Dika.


***


Lanjut?