
Hari-hari terus berlalu tiada pernah berhenti. Kehidupan rumah tangga Hana dan Dika pun terus berjalan seiring bertambahnya waktu. Tahun demi tahun Hana dan Dika lewati dengan kebahagiaan yang selalu mereka ciptakan setiap harinya. Setelah banyaknya kejadian yang mereka lewati baik suka mau pun duka, membuat Hana dan Dika semakin bijak dalam mengambil setiap keputusan dan menangani setiap masalah yang datang menghampiri mereka.
Waktu tak mengusaikan cantiknya Hana yang kini sudah memiliki tiga orang anak di hidupnya. Wajah Hana masih saja terlihat muda bahkan tak berkurang sedikit pun seiring bertambahnya usianya. Ia masih saja seperti Hana beberapa tahun lalu yang tetap cantik tanpa pudar sedikit pun di mata Dika maupun di mata orang lain.
Tak berbeda jauh dengan Hana, Kyara dan Rania pun sama seperti Hana yang tetap cantik seiring bertambahnya usia mereka. Ketiga wanita yang sudah memiliki anak itu masih saja menjadi pusat perhatian orang-orang saat melihat mereka hingga membuat para suami mereka semakin posesif dengan mereka.
"Sayang... apa kau yakin tidak ingin memberikan adik untuk Rachel?" Tanya Gerry pada Kyara yang sedang sibuk menyiapkan pakaian sekolah untuk Rey dan Rachel.
Kyara menolehkan wajahnya ke belakang dimana wajah Gerry kini sudah berada dekat dengannya. "Kau sudah mempertanyakan hal ini berulang kali, Sayang." Ucap Kyara lembut.
Gerry tersenyum mendengarnya. "Ya, namun bisa saja aku mendapatkan jawaban berbeda kali ini." Kelakar Gerry.
Kyara mengusap wajah Gerry lalu membalikkan tubuhnya hingga kini ia dapat melihat wajah tampan suaminya dengan intens. "Bukannya tidak ingin, namun aku hanya takut Rachel nantinya akan merasa kekurangan perhatian jika dia memiliki seorang adik walau itu tidak mungkin terjadi." Tutur Kyara. Bukan tanpa alasan Kyara berbicara seperti itu, mengingat sikap putrinya yang sangat manja dan keras kepala membuatnya meragu untuk memberikan adik pada Rachel.
Gerry mengusap gemas pipi Kyara yang nampak berisi akhir-akhir ini. "Jangan terlalu serius begitu. Aku hanya bercanda." Ucap Gerry lalu mengecup singkat bibir Kyara. "Lagi pula aku sudah tidak ingin lagi melihatmu berjuang antara hidup dan mati seperti melahirkan Rachel dan Rey. Aku tidak ingin kau merasakan kesakitan lagi." Ucap Gerry dengan wajah serius. "Aku sudah merasa cukup dengan kehadiran Rey dan Rachel di hidup kita."
Kyara tersenyum mendengarnya. Sejak melahirkan Rachel beberapa tahun yang lalu Gerry memang memiliki rasa takut yang berlebihan saat melihatnya tengah kesakitan. Terlebih ia juga masih sangat merasa bersalah karena pernah berlaku tidak baik pada Kyara di awal pernikahan mereka.
Tok
Tok
"Mamah..." sayup-sayup Kyara dapat mendengar suara Rey memanggil namanya.
"Sayang lepaskan. Aku ingin membukakan pintu untuk Rey." Ucap Kyara karena Gerry semakin mengeratkan pelukannya di tubuhnya.
"Anak itu mengganggu saja." Ucap Gerry tak ingin Kyara lepas darinya.
"Sayang..." Kyara mencubit pinggang Gerry hingga membuat Gerry meringis. "Ayo lepaskan aku." Ucap Kyara dengan tegas.
Gerry pun melepaskan pelukannya di tubuh Kyara dan membiarkan Kyara berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.
"Rey... ada apa Sayang?" Tanya Kyara menatap Rey yang kini menatapnya dengan datar.
"Apa Mamah melihat baju sekolah Rey? Rey tidak menemukannya di dalam lemari Rey." Tanya Rey.
***