
Suasana di kelas Hana pagi itu nampak heboh setelah kedatangan Hana masuk ke dalam kelas. Teman-teman Hana nampak berbisik-bisik membicarakan kejadian yang terjadi pada Hana di acara ramah tamah mereka dua hari yang lalu.
"Hana, apa kau baik-baik saja?" Tanya salah satu teman sekalas Hana yang berpangkat sabagai sekretaris angkatan mereka.
Hana menganggukkan kepalanya. "Aku oke." Ucapnya.
"Syukurlah. Aku sungguh takut jika acara kita kemarin membuat kau kenapa-napa."
Hana tersenyum. "Ya. Untung saja ada Dika yang menyelamatkanku." Ucap Hana sambil menatap pada Dika yang nampak tidak menghiraukan kehebohan di kelasnya.
"Aku sungguh tidak menyangka jika kau dan Dika benar-benar berpacaran."
Lidah Hana berdecak. "Kau saja yang tidak ingin percaya pada ucapanku." Balas Hana sedikit meninggikan suaranya agar Liza yang duduk tidak begitu jauh darinya dapat mendengar ucapannya.
Untung saja dengan kejadian di acara angkatan mereka hari itu membuat teman-teman Hana percaya dengan status palsu yang ia perankan. Sejak hari itu juga Liza tak lagi berani bertanya tentang hubungannya dan Dika. Bahkan Liza juga tak lagi menatap kesal kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. Entah apa yang terjadi pada Liza hingga wanita itu nampak berubah. Namun Hana tak memperdulikannya dan lebih memilih menjalani hari-harinya dengan tenang.
*
Kebohongan yang Hana ciptakan pun akhirnya berlanjut hingga mereka memasuki semester ke tiga. Dika sudah tidak memperdulikan lagi teman-teman mereka yang masih mengira jika ia dan Hana adalah sepasang kekasih sungguhan. Walau pun hidupnya terasa terusik, namun entah mengapa Dika terlihat menikmatinya.
Diamnya Dika membuat Hana merasa tenang dan aman. Sebab kini ia sudah tak lagi berurusan dengan pria yang berusaha mendekatinya. Kejadian terakhir dengan mantan kekasih Hans membuat Hana kapok untuk dekat lagi dengan seorang pria.
Terkadang terbesit di pemikiran Hana kenapa Dika tak pernah membantah ucapan teman-teman mereka yang selalu menggiring opini tentang hubungan palsu mereka. Pernah sekali Hana bertanya kenapa Dika sepertinya tidak merasa terganggu dengan status palsu hubungan mereka, namun pria itu hanya diam bagaikan batu hingga Hana tak ingin lagi mempertanyakannya karena hanya membuat emosinya naik.
*
"Dari pada bosan, lebih baik aku jalan-jalan ke luar saja." Putus Hana. Hana pun melompat dari atas ranjangnya lalu mengambil jaketnya yang tergantung.
"Menikmati jalanan sendirian sepertinya seru juga!" Ucapnya lalu memakaikan helm di kepalanya. Hana segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumahnya lalu mengunci pintu.
"Saatnya berangkat!" Seru Hana lalu melajukan motornya.
Dinginnya angin malam mulai menusuk ke dalam pori-pori kulit Hana. Hana terus terus melajukan motornya di jalan raya bersama pengendara yang lainnya.
"Sendiri bukan berarti tidak asik." Gumam Hana merasa senang.
Tiga puluh menit berlalu, Motor Hana terus melaju membelah keramaian di malam hari.
"Huh sial sekali kena lampu merah!" Gerutu Hana saat motornya kini terkepung di antara mobil.
Tes
Satu tetes air hujan membasahi pipinya sata Hana mengadahkan wajahnya ke atas langit.
"Sepertinya akan hujan, bagaimana ini?" Wajah Hana mulai panik. Kepanikannya pun berubah menjadi keterkejutan saat mobil di sebelahnya tiba-tiba saja membuka kaca mobilnya hingga ia dapat melihat siapakah orang yang ada di dalam mobil.
*
Berikan dukungan untuk karya Shy yuk dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Terimakasih🖤