Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Melupakan istri


Terlibat dalam perbincangan yang cukup serius serta diselingi canda tawa membuat Dika terbuai hingga tak menyadari jika kini jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Saat suara notifikasi khusus pesan masuk dari Hana terdengar, Dika buru-buru menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu membuka pesan yang dikirimkan Hana.


Sayang... aku ingin martabak pisang coklat. \~ Hana


"Hana?" Dika seketika menatap ke arah jam ponselnya. Kedua bola matanya terbelalak melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Brak


Dengan kasar Dika mendorong kursi kerjanya ke belakang. Pergerakannya yang menimbulkan suara membuat tawa Gerry dan William terhenti.


"Hei apa yang kau lakukan? Berisik sekali!" Tegur William merasa terganggu.


"Aku harus pulang!" Ucap Dika lalu melipat lengan kemejanya ke atas.


"Pulang? Yang benar saja. Kita belum cukup menghabiskan banyak waktu di sini!" Protes William.


"Kalian lanjutkan saja. Aku harus segera pulang!" Cetus Dika lalu tanpa mengucapkan apa pun lagi keluar dari dalam ruangan kerjanya dengan langkah tergesa-gesa.


"Anak itu aneh sekali." Gumam Gerry yang sejak tadi hanya diam.


"Dia tidak aneh. Dia pasti mengkhawatirkan istrinya." Timpal Calvin.


Gerry terdiam untuk mencerna ucapan Calvin. Setelahnya ia pun tertawa kecil saat menyadari sahabatnya kini mulai bucin akut pada istrinya yang tengah hamil. Pastilah saat ini Dika sangat mencemaskan Hana yang tinggal sendirian di rumah mereka.


"Kau ingin kemana?" Tanya William pada Calvin yang kini beranjak dari duduknya.


"Pulang." Balas Calvin singkat. Ia pun turut melupakan jika kini tengah memiliki istri yang tengah hamil besar.


"Hei... kita bahkan belum membahas solusi istrimu yang tengah marah!" Cetus William.


"Kita lanjutkan besok!" Balas Calvin lalu melangkah keluar dari dalam ruangan kerja Dika.


Gerry dan William saling pandang lalu tertawa geli melihat betapa bucinnya Dika dan Calvin. Senyuman di wajah mereka pun seketika luntur saat mendengarkan notifikasi khusus dari istri mereka masing-masing.


"Gerry, sepertinya aku harus pulang sekarang." Ucap William setelah membaca pesan masuk dari Rania.


"Emh, sepertinya aku juga begitu." Balas Gerry setelah turut membaca pesan dari Kyara.


*


"Dika... kau sudah pulang?" Senyuman manis Hana terlihat menyambut kepulangan Dika. Hana menurunkan pandangannya pada plastik yang kini ada di tangan Dika. "Apa itu martabak untukku?" Tanya Hana tanpa memperdulikan wajah Dika yang terlihat bersalah menatapnya.


Dika semakin mendekat ke arah Hana lalu memeluk tubuh Hana barang sejenak. Hatinya semakin merasa bersalah melihat Hana yang kini menunggunya duduk di sofa ruang tamu. "Maaf telah membuatmu lama menunggu." Ucap Dika lalu mengecup kening Hana.


Bibir Hana melengkung sempurna. "Tak masalah. Lagi pula aku cukup paham jika kau tengah berkumpul dengan teman-temanmu." Balas Hana tanpa beban.


Dika menghela nafas panjang. "Kenapa menungguku di sini? Kenapa tidak di kamar saja?" Tanya Dika.


"Aku merasa bosan jika berada di kamar terus." Balas Hana apa adanya. "Ayo duduk dulu." Ajak Hana.


Dika menurutinya dan duduk di sebelah Hana.


"Apa martabak yang kau bawa sudah boleh dimakan?" Tanya Hana.


Dika menatap kotak martabak yang masih berada di tangannya. "Tentu saja boleh." Balas Dika lalu menaruh kotak martabaknya di atas meja.


***


Lanjut?


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.