
"Daddy... Daddy pulang!" Ucap Alan semakin mengeratkan pelukan tangannya di kaki Dika.
Dika tersenyum mendengarnya. Dika pun menurunkan sejenak Alana dari gendongannya lalu melepas tangan Alan yang masih memeluk erat kakinya. "Anak Daddy sedang apa, hm?" Dika mengangkat tubuh Baby Alan lalu menciumnya pipinya gemas.
"Main mobil Daddy." Ucap Alan sambil menunjuk mobil mainannya.
"Daddy..." Alana mulai merengek karena Dika mengabaikannya bahkan tak menggendongnya kembali.
"Agh, ya, kemarilah Sayang." Ucap Dika lalu turut menggendong Alana.
"Ehe..." Alana tertawa-tawa saat Dika mencium gemas kedua pipinya.
"Dika..." suara Hana yang terdengar lembut membuat perhatian Dika teralihkan pada ibu dari anaknya.
"Sayang..." Dika tersenyum menatap Hana yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kau pulang lebih awal?" Tanya Hana.
"Karena pekerjaanku di perusahaan sudah beres dan aku tidak ada panggilan dari rumah sakit." Balas Dika apa adanya.
Hana menatap wajah tampan Dika dengan intens. Dapat ia lihat saat ini Dika sangat lelah dari guratan di wajahnya. Bagaimana tidak, beberapa hari yang lalu suaminya itu selalu sibuk bekerja dan baru hari ini menyempatkan pulang lebih awal.
"Kau ingin menyuapi Alan makan?" Tanya Dika seraya menatap tempat makan yang sedang dipegang Hana.
Hana mengangguk. Mengangkat sedikit tempat makan Alan yang terlihat masih utuh. "Alan begitu sulit diajak makan. Lihatlah tempat makannya masih penuh sedangkan punya Alana sudah habis." Ucap Hana seraya menatap kotak makan Alana yang berada di atas meja sofa.
Dika tersenyum mendengarnya. Putranya itu memang sulit jika diminta untuk makan. Terkadang Alan bisa sampai berdrama menangis agar Hana tak memaksanya untuk makan.
"Makan Kak Alan." Ucap Alana seraya menunjukkan deretan giginya yang sudah tumbuh.
"Kakak nda makan, Dad." Ucap Alan seraya menggeleng.
"Alan..." Hana menggeleng tanda tak setuju dengan ucapan putranya.
"Sudahlah... kemarikan makanannya. Biar aku saja yang menyuapkan makan untuknya." Ucap Dika berniat mengambil alih.
"Tapi kau baru pulang bekerja dan—" ucapan Hana terputus.
"Duduklah lebih dulu. Bagaimana aku bisa memberikan tempat makannya jika kau masih menggendong Alan dan Alana."
"Kau benar." Balas Dika lalu berjalan ke arah sofa. Hana pun ikut berjalan mengikuti Dika.
"Nda mau tulun, Dad!" Alana menggeleng tanda menolak untuk diturunkan.
"Alana... Daddy ingin menyuapkan Kakak makan." Ucap Hana.
Alana pun tak lagi bersuara dan membiarkan Dika menurunkan tubuhnya duduk di atas sofa. Hana pun meletakkan tempat makan Alan di hadapan Dika.
"Mommy, ndong!" Pinta Alana seraya mengulurkan kedua tangannya pada Hana.
"Baiklah." Ucap Hana lalu mengangkat tubuh Alana dari atas sofa. "Kakak makan?" Ucapnya sedikit tidak jelas.
"Ya. Kakak ingin makan dulu bersama Daddy." Ucap Hana.
"Ehe..." Alana tertawa-tawa sambil memainkan rambut Hana yang tergerai. Sedangkan Alan kini sudah nampak fokus mengunyah makanan yang baru saja Dika suapkan.
"Tadi aku bertemu Liza saat berhenti di lampu merah." Ucap Dika membuat perhatian Hana teralihkan ke wajah Dika.
"Kau bertemu Liza? Liza teman sekelas kita dulu?" Tanya Hana.
Dika mengangguk membenarkan. "Aku melihatnya sedang menangis di dalam mobil bersama seorang pria." Ucap Dika.
"Lalu?" Hana memasang wajah tidak ramahnya. Beberapa hari yang lalu orang tua Dika sempat membahas kondisi keluarga Liza saat ini di rumahnya. Walau tidak terlalu mendengar apa yang mereka bicarakan, tetap saja Hana merasa tidak suka jika Dika menaruh perhatian pada Liza yang berstatus sebagai rivalnya dulu.
***
Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.
Sambil menunggu BSM update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Takdir Setelah Perpisahanđź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.