Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Hadiah dari Hana


"Terimakasiu, Dika." Ucap Hana lalu membuka kotak martabak. "Apa kau mau?" Tawar Hana sambil mengangkat sepotong martabak di tangannya.


Dika menggeleng. "Makanlah. Aku sudah kenyang." Balasnya.


Hana mengangguk lalu mulai menggigit martabak yang sejak tadi menggugah seleranya.


"Jangan terlalu terburu-buru memakannya. Tidak ada yang ingin mengambil martabakmu." Tegur Dika melihat Hana yang begitu cepat memasukkan martabak ke dalam mulutnya.


Hana tertawa kecil lalu kembali memakan potongan martabaknya hingga habis empat potong.


"Agh, sepertinya aku sudah kenyang." Ucap Hana sambil mengusap perutnya.


"Minumlah." Ucap Dika sambil menyodorkan segelas air putih yang baru saja ia ambil ke hadapan Hana.


"Terimakasih." Ucap Hana lalu meneguk air putihnya hingga tandas.


"Apa kau sudah siap? Kalau sudah ayo kita kembali ke kamar." Ajak Dika.


Hana terdiam sesaat lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku belum siap karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepadamu." Tutur Hana.


Dika menegakkan tubuhnya. Menatap Hana dengan intens seolah ingin membaca hal penting apanyang ingin disampaikan istrinya.


"Ada apa? Katakan saja." Ucap Dika.


Hana turut menegakkan tubuhnya lalu menatap pada Dika. "Aku masih tetap ingin bekerja." Ucap Hana tanpa takut.


"Huft." Dika menghembuskan nafas kasar di udara. "Aku sedang tidak ingin membahasnya lagi, Hana." Ucap Dika.


"Tapi aku masih tetap ingin bekerja Dika. Ku mohon izinkan aku." Mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Hana..." Dika menggeleng tanda penolakan.


"Ku mohon... aku meminta ini semua karena aku sanggup untuk melakukannya." Ucap Hana. Mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam saku celananya dan menyerahkannya pada Dika. "Tadi pagi aku menyempatkan untuk mengontrol kondisi tubuhku kembali ke dokter kandungan. Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Karena aku merasa tubuhku sudah lebih sehat dan bugar sejak bertemu denganmu."


Dika mulai membuka selembar surat yang diberikan oleh Hana dan membacanya.


Dika diam sambil terus membaca goresan tinta di lembaran surat. Setelah cukup membaca apa yang ingin ia cari tahu, akhirnya Dika pun meletakkan surat pemeriksaan di atas meja.


"Apa kau yakin?" Tanya Dika.


Hana mengangguk dengan cepat. "Aku akan berhenti di saat aku merasa tidak sanggup lagi. Saat ini aku masih tetap ingin menjadi penolong untuk pasien yang membutuhkan bantuanku." Tutur Hana.


Tangan Dika terulur mengusap rambut Hana. "Aku mengizinkanmu." Ucapnya dengan tersenyum.


"Kau serius?" Suara Hana terdengar sedikit keras.


Dika mengangguk. "Namun di setiap pergerakanmu akan selalu aku awasi." Jelasnya.


"Awasi bagaimana?" Kening Hana mengkerut.


"Kau tidak perlu tahu. Yang terpenting saat ini aku mengabulkan permintaanmu dengan syarat." Tekan Dika.


Hana melebarkan senyumannya. "Terimakasih Dika... terimakasih suamiku." Hana menghambur ke dalam pelukan Dika.


"Sama-sama." Dika membalas pelukan Hana dan mengecup sayang kening Hana.


"Kalau begitu ayo kita masuk ke kamar." Ajak Hana begitu bersemangat.


Kening Dika mengkerut melihat istrinya yang begitu semangat mengajaknya. "Apa kau begitu senang dengan izin dariku?" Tanya Dika.


Hana mengangguk dengan cepat. "Dan sebagai balasan atas izinmu aku akan memberikan hadiah untukmu malam ini." Balas Hana dengan tersenyum penuh arti.


"Balasan dalam bentuk apa?" Tanya Dika.


Hana mendekatkan bibirnya ke kuping Dika. "Bermain kuda-kudaan." Ucapnya malu-malu.


***