
"Dika sakit!" Hana terus memekik kesakitan sambil mengeratkan genggamannya di tangan Dika.
Dika nampak meringis kesakitan namun tetap membiarkan tangannya menjadi pelampiasan kesakitan Hana.
"Aw..." Hana memekik kesakitan saat tukang urut memijit kakinya cukup keras.
"Hana diamlah. Kau membuat ibunya terkejut." Ucap Amel memukul pundak Hana.
Hana tak memperdulikan perkataan Amel dan terus berteriak saat rasa sakit itu semakin menyerang dengan bertambah kuatnya pijitan di kakinya. Pekikan Hana pun semakin kuat saat tukang urut menggoyangkan kakinya lalu menariknya kuat.
"Ibu ingin membunuh saya, ya?" Ucap Hana merasakan sakit yang teramat pada kakinya saat ditarik tadi. Bahkan efek rasa sakitnya pun turut dirasakan Dika di tangannya.
"Coba gerakkan kaki Nona, apa masih sakit?" Tanya tukang urut tanpa memperdulikan ucapan Hana.
Hana menggerakkan kakinya ke kiri dan ke kanan. "Ini sulap! Kaki saya sudah tidak sakit!" Hana berdiri. Lalu mencoba melompat. Saat merasakan kakinya benar-benar tidak sakit, Hana pun kembali melompat.
"Kakiku sudah tidak sakit!" Pekik Hana kegirangan.
Tukang urut itu tersenyum lalu memasukkan peralatan urutnya ke dalam tas.
"Dika... kakiku sudah tidak sakit!" Seru Hana pada Dika yang masih duduk di tempatnya.
Dika tersenyum lalu bangkit. "Syukurlah kalau begitu." Ucap Dika mengelus rambut Hana.
"Ibu... terimakasih banyak." Ucap Hana dengan tulus pada wanita paruh baya yang telah memijitnya.
"Sama-sama, Nona. Itu memang tugas saya." Balasnya.
Hana melebarkan senyumannya.
"Ibu Tantri ini memang tukang urut yang handal dan tidak diragukan lagi keahliannya." Ucap Gerry membanggakan tukang urut yang ia bawa.
Hana memandang ke arah Gerry lalu mengancungkan kedua jari jempolnya. "Kau benar dan Ibu Tantri hebat!" Puji Hana.
"Ayo Ibu saya antar keluar." Ucap Amel setelah Ibu Tantri selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kecilnya.
Dika menghampiri Bu Tantri dan memberikan beberapa lembar uang merah pada Bu Tantri.
Dika menggeleng lalu menyodorkan uang itu kembali pada Bu Tantri. "Ambil saja, Bu." Ucap Dika.
"Tapi..."
"Sudah, ambil saja, Bu." Timpal Amel dengan tersenyum.
Bu Tantri mengangguk. "Terimakasih, kalau begitu saya pulang dulu." Pamitnya yang diangguki oleh Dika.
Setelah mengantarkan Bu Tantri ke depan pintu, Amel pun kembali.
"Hana, apa kau ingin pulang sekarang?" Tanya Amel.
Hana melirik jam yang menggantung di dinding. "Apa kau sudah ingin pulang?" Tanya Hana yang diangguki Amel.
"Aku harus segera pulang karena dua jam lagi aku ingin pergi ke rumah Bibiku." Terang Amel.
Hana mengangguk paham. Pandangannya pun beralih pada Dika. "Dika, kalau begitu aku pamit pulang dulu dengan Amel." Ucap Hana.
"Tapi bagaimana dengan kakimu?" Tanya Dika.
"Kau lihat sendiri bukan kakiku sudah baik-baik saja. Dan aku sudah bisa berjalan dengan normal." Hana berjalan menunjukkan kakinya sudah baik-baik saja.
"Hana, jika kau ingin masih di sini, kau bisa pulang dengan Dika nantinya." Ucap Amel.
Hana menggeleng. "Tidak. Aku akan pulang denganmu." Balas Hana.
Amel mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu ayo kita pulang!" Ajak Amel yang diangguki oleh Hana.
"Gerry. Aku pamit pulang dulu." Ucap Hana pada Gerry.
Gerry mengangguk. "Hati-hati di jalan dan jangan ceroboh jika berjalan." Cibir Gerry yang membuat bibir Hana mengerucut tajam.
***