
"Dika." ucap Hana menatap Dika yang kini juga menatapnya.
Dari dalam mobilnya Dika hanya diam sambil mengamati wajah Hana dengan intens.
Hana memalingkan wajahnya. Merasa malu dengan tatapan Dika.
"Sedang apa kau di luar? Apa kau tidak lihat cuaca sepertinya akan hujan?" Tanya Dika.
Hana kembali menolehkan kepalanya pada Dika. "Apa kau baru saja berbicara?" Tanya Hana memastikan. Sepertinya indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Namun mendengar Dika berbicara cukup panjang membuatnya ragu.
Dika diam. Pandangannya kini menatap lurus ke depan. Wajah Dika kesal Dika nampak jelas terlihat oleh Hana.
Ternyata dia benar-benar berbicara padaku. Batin Hana.
Tin
Tin
Suara klakson mobil yang terdengar saling bertautan seakan tidak sabar keluar dari kemacetan membuat Hana segera menancap gas motornya. Baru berapa meter melewati lampu merah, wajah Hana sudah kembali basah oleh rintikan air hujan.
"Bagaimana ini, hujannya semakin lebat." Hana menambah kecepatan motornya. "Agh sial sekali. Aku harus menempuh setengah jam lagi baru bisa sampai di rumah."
Merasakan hujan semakin lebat dan kini sudah membasahi jaketnya, Hana pun menepikan motornya. Pandangannya terus mencari ruko yang bisa ia singgahi untuk berteduh.
"Nah itu dia!" Seru Hana lalu membelokkan motornya menuju sebuah ruko yang bisa ia si ggahi.
"Permisi, saya numpang berteduh sebentar ya, Pak." ucap Hana pada seorang pria paruh baya yang tengah menjaga warung jualannya.
Pria itu mengangguk. "Silahkan, Nona." balasnya sopan.
Hana tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Beberapa motor pun mulai berdatangan ikut berteduh karena hujan semakin deras diikuti angin yang berhembus cukup kencang.
"Dingin sekali." Hana mengeratkan jaket di tubuhnya.
Lima belas menit menunggu, hujan tak kunjung reda. Hana semakin kedinginan. Apa lagi saat ini jaketnya sudah terasa lembab sebab terkena cipratan air hujan.
"Apa aku pergi saja? Menunggu hujan reda bisa-bisa aku sampai tengah malam di rumah." Pikir Hana. Saat larut dalam pemikirannya, Hana dikejutkan oleh kedatangan sebuah mobil yang sangat dikenalinya.
"Mobil Dika?" Gumam Hana menatap mobil Dika. Tak lama sang pemilik mobil pun turun dari dalam mobilnya sambil membawa payung.
"Dika? Mau apa kau di sini? Apa kau ingin belanja?" tanya Hana sambil mengarahkan pandangan pada toko di belakangnya.
"Cepat masuk!" Titah Dika tanpa menjawab ucapan Hana.
"Masuk kemana?" Hana dibuat bingung.
"Masuk ke dalam mobilku." Balas Dika.
"Ke dalam mobilmu?" Hana semakin bingung.
"Apa kau masih mau menatap di sini hingga hujan reda?" Cetus Dika.
"Lalu bagaimana dengan motorku?" Tanya Hana yang sudah paham maksud ucapan Dika.
Dika hanya diam. Namun kakinya melangkah masuk ke dalam toko dan berbicara kepada pemilik toko. Setelah cukup berbicara, Dika kembali keluar.
"Titipkan saja motormu di toko ini lebih dulu. Besok pagi kita akan menjemputnya kembali." Jelas Dika.
Hana mengangguk paham. Apa dia berniat baik ingin mengantarkanku pulang? Hana berucap dalam hati. Entah mengapa ia merasa diperhatikan oleh Dika saat ini.
"Ayo masuk!" Titah Dika setelah memasukkan motor Hana ke dalam garasi yang ditunjuk oleh pemilik toko.
"Tapi—" Hana nampak ragu. Namun setelah mendapatkan tatapan tajam dari Dika, akhirnya Hana pun menuruti perintah Dika.
***
Berikan dukungan untuk karya Shy yuk dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Terimakasihđź–¤