Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Cukup percaya denganku


Dika tersenyum mendengarnya. Namun tetap saja ia khawatir dengan kondisi istrinya itu. "Cukup hari ini terakhir kau memasak untukku. Walau kau mengatakan kau tidak lelah namun aku tetap mengkhawatirkan kondisimu dan anak kita." Tekan Dika.


Hana menghela nafas panjang. Ia lepaskan tangan Dika yang melingkar di pinggangnya lalu membalikkan tubuhnya menghadap Dika. "Aku tahu kau mencemaskan keadaanku. Namun kau jangan melarangku melakukan kewajibanku selagi aku bisa mengerjakannya. Aku masih sanggup memasak sarapan untukmu karena pekerjaan ini tidak berat." Tutur Hana.


Dika menghela nafas sesaat mendengar Hana yang tidak mengerti rasa cemasnya. "Baiklah. Kau boleh tetap memasak tapi dengan bantuan pelayan." Putus Dika tidak ingin berdebat.


Senyuman di wajah Hana terbit seketika. "Terimakasih, Sayang." Balas Hana lalu memeluk erat tubuh Dika.


"Jangan terlalu kencang. Kau bisa membuat anak-anak kita kesulitan bernafas." Tegur Dika sambil mengelus punggung Hana dengan jemarinya.


Hana tersenyum lalu melepas pelukannya. "Kembalilah ke kamar dan bersihkan tubuhmu. Aku akan menyusul sebentar lagi setelah pekerjaanku selesai." Balas Hana.


Dika mengangguk lalu menuruti permintaan istrinya.


"Terimaksih Tuhan karena engku telah mengembalikan sosok pria yang selama ini aku cintai. Aku berjanji tidak akan bersikap bodoh dan mengecewakannya lagi." Gumam Hana sambil menatap punggung Dika yang semakin jauh darinya.


*


"Apa kau yakin tetap ingin bekerja hari ini?" Tanya Dika memastikan kembali saat Hana terlihat sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Ya. Aku sangat yakin." Balas Hana begitu bersemangat.


Dika menghela nafas sesaat. "Kalau begitu ayo kita berangkat." Ajaknya.


Hana mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah Dika.


"Kau akan bekerja di rumah sakit hari ini?" Tanya Hana saat sudah masuk ke dalam mobil.


Dika mengangguk. "Ada pasien yang harus aku tangani hari ini. Setelah siap aku akan kembali ke perusahaan." Balas Dika.


"Apa tidak merepotkan jika kau bolak-balik ke rumah sakiy hanya untuk menjemputku nanti?" Tanya Hana.


"Tentu saja tidak. Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu." Balas Dika dengan wajah datarnya.


Mobil pun mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah. Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit Hana tak henti mengajak Dika berbicara seolah tidak ada hari nanti untuk mereka berbicara kembali.


"Kau semakin cerewet setelah mengandung." Ucap Dika sambil mengusap rambut Hana saat mobil berhenti di lampu merah.


Hana tersenyum mendengarnya. "Ya. Aku juga merasakannya. Entah mengapa lidahku terasa gatal jika tidak bergerak." Seloroh Hana.


Dika menyentil pelan kening Hana. "Sejak dulu kau selalu saja cerewet hingga membuat telingaku terasa sakit setiap mendengarnya." Kelakar Dika.


"Enak saja!" Balas Hana lalu menepuk pelan lengan Hana merasa tak terima.


Dika tersenyum tipis. Melihat sikap Hana yang sudah mulai kembali seperti beberapa tahun yang lalu membuatnya merasakan kebahagiaan yang tak terhingga saat ini.


"Aku harap kau tidak lagi bersikap bodoh ke depannya. Tetaplah seperti ini dan cukup percaya denganku saja. Jangan lagi mendengarkan ucapan orang lain yang belum tentu kebenarannya." Ucap Dika saat mobil sudah mulai melaju.


Hana menolehkan wajahnya ke samping. "Ya. Aku akan mengusahakannya. Aku juga tidak ingin lagi melewati hari dengan kerinduan yang tidak pernah sampai."


***


Lanjut?


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.