
"Aku yakin kau wanita yang cukup tau diri siapakah dirimu dan siapa Dika." Liza menepuk bahu Hana lalu meninggalkan Hana begitu saja.
Hana tertunduk. Ucapan Liza benar-benar membuat dadanya terasa sesak. Hana tak dapat menyangkal karen ucapan Liza semuanya benar. Rasa kepercayaan dirinya selama ini lenyap begitu saja setelah mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut Liza.
Hana menatap ke sekitarnya yang saat ini sudah mulai ramai. Menghela nafas panjang lalu menghenbuskannya secara perlahan di udara berharap dapat mengurangi rasa sesak di dadanya. Hana pun kembali melanjutkan langkahnya. Ia harus segera menemui pihak administrasi untuk menyelesaikan urusannya pagi ini. Untuk ucapan Liza, Hana akan memikirkannya kembali nanti.
*
Baru saja keluar dari ruangan administrasi jurusan, Hana dikejutkan saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang.
"Dika?" Hana melebarkan kedua matanya saat melihat siapakah pelaku yang menarik tangannya.
Dika tak bersuara namun tangannya terus menarik tangan Hana agar berjalan mengikutinya hingga sampai ke parkiran.
"Dika... ada apa ini?" Hana terus menanyakan hal yang sama namun Dika tak menghiraukan ucapannya.
"Masuklah." Titah Dika dengan dingin.
Hana menurutinya. Setelah Hana duduk di dalam mobil, Dika pun memutari mobilnya lalu masuk ke dalamnya.
"Dika ada ap—" ucapan Hana terputus saat Dika tiba-tiba memeluknya.
"Di-dika..." lirih Hana saat merasakan pelukan Dika semakin erat.
"Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu." Lirih Dika.
Tangan Hana terangkat membalas pelukan Dika. Melebihi Dika, ia pun sangat merindukan kekasih hatinya itu.
"Dika..." Hana membalas pelukan Dika erat. Matanya terpejam menikmati aroma parfum Dika yang selalu membuatnya merasa nyaman berada di pelukan Dika.
Dika melerai pelukannya lalu menatap wajah Hana dengan intens. Wajahnya semakin maju mengikis jarak di antara mereka lalu menempelkan bibirnya di bibir Hana.
Rasa rindu dan khawatir yang dirasakan Dika satu minggu belakangan ini ia salurkan lewat ciuman yang ia berikan. Begitu pula dengan Hana, Hana membalas ciuman Dika untuk menyalurkan rasa rindu yang juga ia rasakan.
Cukup lama Hana dan Dika larut dalam ciuman mereka. Hingga akhirnya Dika melepas pangutannya lalu menempelkan keningnya dan kening Hana.
"Kenapa ponselmu sering tidak aktif?" tanya Dika. Matanya kini menatap intens kedua bola mata Hana.
"Maaf. Aku sibuk mengurus Mama yang sedang sakit." Ucap Hana tanpa menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Sakit? Sakit apa?" Wajah Dika berubah cemas.
"Hanya sakit demam biasa namun cukup lama." Hana mengangkat sebelah tangannya lalu menempelkannya di pipi Dika.
Dika menimpali tangan Hana dengan tangannya. "Kenapa tidak bilang? Apa kau tahu aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu saat kau tak kunjung membalas pesanku!" Memberikan kembali kecupan di bibir Hana.
Hana tak membalas ucapan Dika dan lebih memilih membalas kecupan yang Dika berikan hingga menjadi ciuman lembut yang mematikan.
"Dika... aku sangat mencintaimu." Lirih Hana lalu memeluk erat tubuh kekar Dika.
Dika membalas pelukan Hana. "Kau tadi bicara apa?" Tanya Dika yang tak terlalu mendengar ucapan Hana.
Hana menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya seakan pelukan itu adalah pelukan terakhir untuk Dika.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu." Ucap Dika setelah pelukan mereka terlepas.
"Apa?" Hana menatap intens wajah Dika.
***
Lanjut lagi? Berikan Vote, gift dan komennya dulu yuk🌹