
"Tapi Hana, semua ini memang salah Ma—"
"Hana tidak ingin membahasnya lagi Mama. Lebih baik sekarang kita makan karena Hana sudah sangat lapar." Hana mengelus pundak Mama Rita. Ia sungguh tidak ingin membahas masa lalunya yang menyedihkan itu.
Mama Rita akhirnya mengangguk. "Tunggu sebentar. Mama akan menyalin sambalnya lebih dulu." Ucap Mama Rita yang diangguki oleh Hana.
Di meja makan Hana melihat salah satu makanan kesukaannya sudah terhidang. "Kenapa Mama banyak sekali memasak makanannya?" Tanya Hana.
"Mama memang sengaja memasak banyak untukmu." Balas Mama Rita sembari meletakkan masakan baru di atas meja.
Hana melebarkan senyumannya. "Terimakasih Mama. Hana akan menghabiskan masakan Mama yang tiada tandingannya ini." Ucap Hana.
Mama Rita tersenyum lalu menarik kursi untuk duduk. "Biar Mama yang mengambilkan nasi untukmu." Mama Rita menahan pergerakan Hana yang hendak mengambil piring.
Hana mengangguk seraya tersenyum. Kali ini ia ingin merasakan dimanja oleh Mamanya sebelum sebentar lagi ia menjadi istri Dika.
*
Dua hari kemudian.
Setelah kemarin kelurga Hana dan keluarga Dika melakukan pertemuan untuk pertama kalinya untuk membahas masalah pernikahan mereka, akhirnya hari ini acara pernikahan itu dilangsungkan. Karena Hana dan Mama Rita tak lagi memiliki rumah selain apartemen, akhirnya acara pernikahan disepakati dilaksanakan di rumah orang tua Dika.
Diapit oleh Rania dan Kyara, Hana nampak sangat cantik dengan kebaya putih yang melekat indah di tubuhnya. Senyuman palsu pun akhirnya terbit di bibir Hana saat orang-orang yang sudah duduk di tempat acara tersenyum ke arahnya.
Senyuman palsu Hana pun luntur seketika saat melihat sosok pria yang kini duduk di samping pengulu.
Papa... ucap Hana dalam hati menatap pria yang telah menggoreskan luka di hatinya dan Mamanya.
Kyara dan Rania terus berjalan membimbing Hana hingga akhirnya duduk di samping Dika.
"Hana lihatlah, Dika sangat tampan bukan." Bisik Rania sebelum pergi dari sisi Hana.
Hana menggelengkan kepalanya. "Biasa saja." Balasnya turut berbisik. Padahal sejak tadi ia sama sekali tidak berani melihat wajah Dika.
Rania menghela nafas panjang lalu berjalan menjarak dari sisi Hana.
"Rania, dia Papa Hana?" Tanya Kyara menatap pada Papa Hana.
Rania mengangguk.
"Kenapa kemarin dia tidak ikut dalam pertemuan keluarga?" Tanya Kyara merasa bingung. Apa lagi sejak kemarin keluarga Dika tidak ada menyinggung soal Papa Hana selain menjadi wali pernikahan Hana hari ini.
"Entahlah... mungkin dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan kemarin Kya." Balas Rania asal karena Rania tidak ingin Kyara mengetahui kejadian yang sebenarnya tentang hidup Hana.
Kyara mengangguk saja. Pandangan mereka pun kini fokus menatap Dika yang tengah berjabat tangan dengan Papa Hana setelah melakukan sesi permintaan maaf pada orang tua kedua belah pihak.
Dengan hanya satu tarikan nafas, akhirnya Dika pun berhasil membuat status Hana berubah menjadi istrinya. Hana tak dapat membendung air matanya. Walau hanya menikah karena keterpaksaan satu sama lain, namun menurutnya pernikahan bukanlah hal main-main.
Tuhan... kuatkan aku dalam menjalani pernikahan ini kedepannya. Batin Hana penuh harap.
****
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹