Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Bagaimana ini?


Hana menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya di lantai dua dengan langkah tak bersemangat. Teriknya matahari yang menyengat tubuh dan wajahnya saat berada di luar tadi membuat tubuhnya semakin lemah setelah lelah bekerja seharian ini.


"Rasanya aku sungguh lelah sekali." Hana menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang tanpa membuka lebih dulu sepatu yang masih melekat di kakinya. Namun itu hanya sesaat, karena setelahnya ia pun kembali bangkit saat mengingat Dika yang sangat menyukai kebersihan pasti akan marah jika ia berbaring tanpa melepas sepatunya. "Walau dia tidak ada di rumah ini namun aura dinginnya sudah terasa." Hana buru-buru melepas sepatu yang masih melekat di kakinya lalu meletakkannya di rak sepatu.


Niatnya yang hanya ingin datang ke rumahnya hanya sekedar untuk mengambil pakaian Hana urungkan dan ia lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu di rumah barunya dan Dika. "Dari pada aku buru- buru pulang lebih baik aku istirahat di sini lebih dulu. Lagi pula tubuh lelahku ini akan semakin lelah jika melihat wajah dedemit itu." Gumam Hana setelah kembali berbaring di atas ranjang. Tak lama kedua mata Hana pun perlahan tertutup rapat.


*


Pukul delapan malam, Hana terbangun dari tidurnya. Dengan malas ia mengucek kedua matanya agar dapat melihat dengan jelas sudah jam berapa saat ini. Setelah penglihatannya cukup jelas menatap pada jam dinding kamarnya, mata Hana membola sempurna melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Astaga, kenapa aku tidur sampai jam segini!" Hana buru-buru bangkit dari ranjang. Berjalan tergesa-gesa ke arah lemari lalu mengeluarkan beberapa helai pakaian yang ia butuhkan di sana. "Hana... Hana... kenapa kau ceroboh seperti ini!" Hana mengusap keningnya. Pasti saat ini mertuanya sudah mencari keberadaannya terlebih ia belum sempat mengabari keberadaannya saat ini.


"Hana... kau sungguh ceroboh!" Hana tak henti mengumpat pada dirinya sendiri. "Bagaimana ini, aku lupa membawa charger." Keluh Hana saat ini berniat mengisi daya ponselnya. Selain untuk menghubungi mertuanya, ia juga membutuhkan ponselnya untuk menghubungi taksi online kembali. "Sudahlah, lebih baik aku pulang saja menggunakan mobilku dan menjelaskan kepada Mama saat di rumah." Putus Hana. Hana kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya. Saat ia hendak berjalan mengambil kopernya, Hana mengurungkan niatnya saat mendengar suara petir yang terdengar cukup kuat dari arah luar.


"Apa hari mau hujan?" Hana beralih berjalan menuju jendela kamarnya. Menyingkap sebagian gorden kamar lalu menatap pada langit. "Gelap sekali... sepertinya akan hujan lebat." Tebak Hana. Belum sempat Hana menutup gorden kamarnya, suara hujan yang turun membasahi bumi cukup deras membuat Hana mengelus dadanya merasa terkejut.


"Aduh... bagaimana ini? Aku tidak mungkin pulang dalam kondisi cuaca buruk seperti ini." Hana dibuat bingung dengan keadaanya saat ini. Ingin mengabari mertuanya ia tidak bisa dan kini ia juga tidak bisa pulang sebab hujan deras diikuti angin yang berhembus cukup kencang di luar sana. Belum selesai kebingungan Hana dengan keadaannya saat ini, Hana sudah dikejutkan dengan lampu rumahnya yang tiba-tiba mati.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊