
Pagi ini Hana kembali terbangun dalam pelukan Dika. Matanya menatap pada wajah tampan Dika yang kini berada tepat di depan dadanya dengan tersenyum. Hana mengusap rambut tebal Dika yang kini sudah menjadi hobbynya kembali. Pergerakan Hana pun membuat tidur Dika terganggu. Dika menggeliat dalam tidurnya lalu semakin menelusupkan wajahnya di dada Hana.
"Sayang... Hentikan! ini sungguh geli..." Hana mencoba menghentikan pergerakan Dika dengan memegang kepala Dika. Namun bukannya berhenti, Dika justru semakin jahil membuat Hana kegelian. "Sayang..." Tekan Hana yang sudah begitu kegelian.
Dika menghentikan aksinya lalu menatap pada wajah Hana yang sudah memerah. "Selamat pagi, Sayang. Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Dika.
Hana menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. "Selalu nyenyak jika berada di pelukanmu." Balas Hana.
Dika tersenyum. Ia pun bangkit dari pembaringannya lalu membantu Hana untuk bangkit. "Kau tidak muntah lagi pagi ini?" Tanya Dika mengingat kebiasaan baru Hana semenjak hamil.
Hana terdiam sesaat lalu menggeleng. "Semenjak kau ada di sini, rasa mualku perlahan berkurang dan tenagaku semakin bertambah." Ungkap Hana.
"Apa mereka menginginkanku selalu berada di dekat Mommynya agar tidak rewel?" Tanya Dika sambil mengusap perut Hana.
"Sepertinya begitu." Balas Hana dengan tersenyum.
Dika ikut tersenyum. "Apa kau menginginkan sesuatu pagi ini?" Tanya Dika.
Hana terdiam dan berpikir. "Untuk saat ini tidak. Namun aku tidak bisa memastikan untuk nanti." Balas Hana.
Dika menghela nafas sesaat. Ia sedang menebak-nebak makanan apa lagi yang diinginkan istrinya hari ini setelah kemarin menginginkan makanan yang tidak pernah ia ketahui namanya sebelumnya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo ke kamar mandi. Aku akan membantumu membersihkan diri." Ajak Dika.
Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku bisa membersihkan tubuhku sendiri." Tolak Hana dengan cepat. Bukan tanpa alasan Hana menolak permintaan Dika. Rasa malu kemarin saja karena dimandikan Dika belum surut kini Dika sudah menawarkan kembali untuk memandikannya. Agh, rasanya Hana tidak sanggup untuk melakukannya lagi.
Dika menatap wajah Hana dengan intens. "Kau yakin bisa mandi sendiri pagi ini?" Tanya Dika memastikan.
"Ya. Aku bisa melakukannya sendiri." Balas Hana dengan yakin.
"Tapi aku tidak yakin." Ucap Dika lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh Hana.
"Dika apa yang kau lakukan?!" Pekik Hana saat Dika membawa tubuhnya ke arah kamar mandi.
Agh rasanya aku ingin melebur saat ini juga. Teriak batin Hana membayangkan rasa malunya kembali.
*
"Jadi kau ingin makan apa siang ini?" Tanya Dika saat mereka tengah menikmati acara televisi di ruang tamu siang itu.
"Ehm... entahlah... namun sejak tadi aku terus membayangkan lezatnya sosis bakar buatan Kyara masuk ke dalam mulutku." ucap Hana sambil membayangkan tengah memakan sosis bakarnya saat ini.
"Sayang... Tapi saat ini kita tidak sedang berada di kota yang sama dengan Kyara." Tutur Dika.
Wajah Hana berubah sendu. "Tapi aku sangat menginginkannya saat ini." Ucapnya dengan suara yang sudah berubah pelan.
"Tapi sangat tidak mungkin jika kau mau mendapatkannya saat ini juga." Tangan Dika mengelus lembut rambut Hana.
"Mungkin saja jika kita kembali ke kota saat ini juga." Balas Hana dengan tersenyum merekah.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.