
Sialan! Kenapa kancing bajuku terbuka begini! Rutuk Dika dalam hati sambil merapikan bajunya yang berantakan.
"Hana... ayo turun." Rania membantu Hana turun dari atas ranjang dengan susah payah karena tubuh Hana yang bergetar.
"Ke-napa Dika bisa ada di kamarku, Rania?" Tanya Hana dengan bibir bergetar.
Rania menggeleng. "Aku juga tidak tahu, Hana. Aku juga kaget mendapat kabar dari pelayan hotel jika Dika tadi malam masuk ke dalam kamarmu." Ucap Rania berbohong dengan suara sedikit besar agar Dika dapat mendengarnya.
Jadi benar, aku yang masuk ke kamar Hana? Tapi bagaimana bisa! Dika hanya bisa berucap dalam hati. Setelah selesai merapikan pakaiannya, Dika pun menghampiri kedua orang tuanya yang masih memasang wajah berangnya.
"Mama benar-benar kecewa padamu, Dika." Ucap Mama Puspa menatap Dika penuh kekecewaan.
"Mama, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Dika bisa menjelaskan ini semua Ma." Dika mencoba meraih tangan Mamanya namun Mama Puspa menghempaskan tangannya begitu saja.
"Papa sungguh tidak menyangka kau berprilaku kotor seperti ini, Dika! Berani-beraninya kau tidur dengan wanita yang belum sah menjadi istrimu!" Bentak Papa Indra.
"Itu tidak benar, Pa. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini." Dika mencoba menjelaskan apa yang terjadi, namun Papa Indra dan Mama Pusta tak ingin mendengarkannya.
Pandangan Papa Indra beralih pada Hana yang kini berdiri sambil tertunduk di sebelah Rania. "Siapa namamu?" Tanya Papa Indra yang membuat kepala Hana terangkat.
"Nama saya Hana, Tuan." Balas Hana dengan sopan.
"Ada hubungan apa kau dengan putraku?" Tanya Papa Indra dengan suara yang sedikit lembut.
"Sa-saya hanya rekan kerja Tuan Dika di rumah sakit, Tuan."
"Jangan berbohong Nona, kau pasti memiliki hubungan dengan putraku." Timpal Mama Puspa.
Hana menggeleng cepat. "Saya benar hanya rekan kerja Tuan Dika, Nyonya." Balas Hana meyakinkan.
"Nyonya..." Hana berusaha berbicara namun suara Mama Puspa menghentikannya.
"Putraku benar-benar bersalah padamu, Hana. Dia telah menodai wanita baik sepertimu." Mama Puspa mulai menangis.
"Mama!" Suara Dika terdengar meninggi. Ia benar-benar tidak setuju dengan ucapan Mamanya.
"Pelankan suaramu! Beraninya kau berbicara tinggi dengan istriku!" Bentak Papa Indra dengan menatap nyalang pada Dika.
Dika terdiam. Kali ini untuk pertama kalinya ia melihat kemarahan dari kedua orang tuanya dan itu benar-benar membuatnya frustasi.
William dan Rania saling pandang dengan tatapan penuh arti. William pun mengecek sebentar ponselnya untuk memastikan panggilan telefonnya dengan Gerry masih terhubung hingga Gerry dapat mendengar seluruh percakapan di kamar hotel Hana.
"Tuan... Nyonya... saya berani bersumpah jika diantara saya dan Tuan Dika tidak terjadi apa-apa. Tuan Dika tidak menyentuh saya sama sekali." Hana mencoba memberi pembelaan untuk dirinya dan juga Dika yang kini tengah disudutkan.
"Tidak terjadi apa-apa bagaimana? Jelas-jelas tadi putraku tidur sambil memelukmu dan wajahnya tepat berada—" ucapan Mama Puspa terputus saat ia merasa jijik untuk mengatakannya.
Hana pun tak dapat membantah ucapan Mama Puspa yang menurutnya benar adanya.
"Papa kira adikmu lah yang harus diperhatikan pertemannya, ternyata kaulah yang harus diperhatikan karena kini kau sudah terbawa pengaruh pergaulan teman-temanmu yang ada di luar negeri sana." Ucap Papa Indra tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari Dika.
Akting Om Indra oke juga. Puji William dalam hati.
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹