Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Kejahilan Alan


"Aku hanya ingin berkata seperti itu saja." Balas Dika tak ingin menyebutkan maksud hatinya. Terlebih melihat wajah tak bersahabat Hana membuatnya memilih hati-hati bicara atau akan mendapatkan hukuman setelah ini.


"Apa kau peduli padanya?" Selidik Hana. Mata wanita dua anak itu kini memicing menatap Dika.


Dika menggeleng. "Aku hanya peduli padamu." Ucapnya mengambil jalan aman.


"Alasan saja!" Cetus Hana. Wajahnya berubah masam menatap pada Dika.


"Daddy!" Suara Alan terdengar keras karena tak kunjung mendapat suapan makanan dari Dika. Padahal ia sudah sejak tadi membuka mulutnya menanti makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Agh, ya." Dika segera menyuapkan makanan untuk Alan.


"Mommy..." Alana yang sudah merasa tidak nyaman berada digendongan Hana pun memberontak meninta diturunkan.


"Alana jangan lagi bermain di depan rumah!" Titah Hana saat Alana mulai berjalan ke arah depan.


"Ehe..." Alana tertawa-tawa lalu membalikkan tubuhnya ke arah belakeng. "Mommy.... Na main pelinces!" Ucapnya sedikit tidak jelas.


Paham arti ucapan putrinya, Hana pun segera mengambil mainan Alana di atas karpet bulu lalu memberikan pada putrinya. Setelah membiarkan Alana asik dengan mainannya sendiri, Hana pun kembali berjalan ke arah Dika yang masih sibuk menyuapkan Alan.


"Aku tidak akan melakuka hal yang membuat rumah tangga kita menjadi bermasalah." Ucap Dika sebelum Hana berbicara.


Hana menghela nafasnya. "Aku hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman untuk yang kedua kalinya." Jelas Hana.


"Aku paham. Dan aku tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama sedangkan aku tahu efek dari itu semua seperti apa." Jelas Dika.


Senyuman di wajah Hana terkembang. Saat ini hatinya mulai terasa lega setelah mendengar ucapan dari Dika yang terdengar sungguh-sungguh di telinganya.


"Dah." Ucap Alan membuat perhatian Dika teralihkan kembali pada putranya.


"Sayang, ayo habiskan makanannya sedikit lagi." Ucap Dika.


"Nda, Dad." Ucap Alan lalu turun dari atas sofa dan berlari ke arah Alana yang sedang asik bermain boneka.


Dika menghela nafasnya. "Apa Alan selalu seperti ini di saat aku tidak berada di rumah?" Tanya Dika.


"Ya. Seperti yang kau lihat dan kau dengar." Balas Hana seraya tertawa.


"Hua... Mommy!" Suara tangisan Alana terdengar keras.


"Alana..." Hana buru-buru berjalan ke arah Alana yang kini sudah terlentang di atas karpet sambil menangis.


"Pelinces Lana... Huaa..." Alana semakin menangis kencang saat Alan membawa bonekanya berlari ke sana kemari.


"Alana..." Hana mengangkat tubuh Alana lalu menggendongnya. Sedangkan Dika mengambil tugas untuk mengejar Alan.


"Hua... pelinces Lana..." ucap Alana sedikit tidak jelas.


"Alan... kembalikan mainan adik!" Titah Hana dengan tegas.


"Nda mau." Balas Alan lalu kembali berlari hingga membuat Dika kualahan mengejarnya.


"Anak itu..." Hana menghela nafas berat melihat sikap putranya. Entah mengapa ia merasa bingung melihat sikap Alan yang jauh berbeda dengan Dika yang pendiam dan tak tersentuh. Sedangkan Alan lebih aktif dan suka menjahili adiknya sepanjang hari.


"Ayo kembalikan mainannya pada Alana." Tutur Dika lembut setelah menangkap tubuh Alan.


"Ehe..." bukannya mengiyakan Alan justru tertawa sambil memainkan rambut Dika.


"Mommy... hua..." Alana semakin menangis keras karena Alan tak kunjung memberikan mainannya.


"Sayang... ayo kembalikan mainan Alana." Ucap Dika dengan suara yang lebih tegas.


Mendengar suara Dika yang terdengar sedikit keras membuat Alan menangis seraya menggeleng. "Nda mau... hua..."


***


Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.


Sambil menunggu BSM update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Takdir Setelah PerpisahanšŸ–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.