
Dika terus menggeram dalam hati hingga tanpa sadar jika kini Hana suduh duduk tak jauh dari meja mereka.
"Dika, kau lihat istrimu duduk di dekat kita." Bisik Gerry sambil menatap Hana yang sepertinya tidak menyadari keberadaan mereka.
Bisikan suara Gerry membuat Dika tersadar hingga kini matanya menatap Hana yang masih bercanda tawa dengan Fitri dan Arka.
"Ck. Senyuman Hana manis sekali." William tanpa sadar memuji Hana saat Hana tersenyum lebar. Pandangan William pun beralih pada Dika.
Tatapan tajam dari Dika kepadanya berhasil membuat William menutup rapat mulutnya. Sepertinya Dika mendengar pujiannya pada Hana, pikirnya.
"Aku tidak menyangka jika di belakangmu Hana bisa tertawa lepas. Tidak seperti di dekatmu yang selalu membeku." Cibir Gerry.
"Apa kau bisa diam?" Kali ini Gerry lah yang mendapatkan tatapan mematikan dari Dika.
"Aku tidak bisa diam. Apa lagi saat ini Hana tengah menatap pada kita." Gerry menampilkan senyuman lebarnya pada Hana namun tetap membalas ucapan Dika.
Berani sekali dia tersenyum seperti itu tanpa merasa bersalah sama sekali. Tatapan Dika terhunus tajam pada Hana. Namun sepertinya Hana merasa enggan menatap ke arahnya hingga Hana tak dapat melihat tatapan mematikannya.
"Dokter Hana, bukankah itu Dokter Dika?" Fitri melayangkan senyumannya pada Dika walau ia sadar Dika tak akan membalasnya.
Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tubuhnya mulai menunjukkan reaksi gugup saat matanya tanpa sadar melihat tatapan tajam dari Dika.
"Seperti ketiga pria itu terus menatap padamu sejak tadi." Ucap Arka sambil membalas tatapan Dika, Gerry dan William.
"Benar Dokter. Mereka sejak tadi memperhatikan kita. Atau lebih tepatnya memperhatikan Dokter Hana." Timpal fitri.
Hana menunjuk dirinya lalu tertawa kecil. "Aku? Untuk apa mereka menatapku. Mungkin mereka menatap Kak Arka." Kilah Hana.
"Tapi sepertinya mereka memang menatap kepadamu, Hana." Pungkas Arka.
"Sudahlah, lebih baik kita menikmati makan siang ini sebelum waktu istirahat habis." Ucap Arka kemudian. Ia seolah tak merasa terganggu dengan tatapan Gerry dan William yang masih menatap ke arah meja mereka.
Hana dan Fitri pun mengangguk menyetujui. Hana terlihat tak begitu berselera menyantap makanannya setelah mengetahui Dika bersama kedua sahabatnya tengah berada di resto yang sama dengannya.
Bagaimana aku bisa makan dengan lahap jika begini. Jika aura mencekam Dika terasa sampai ke sini. Ucap Hana dalam hati.
Dengan susah payah Hana menghabiskan makanannya agar Arka dan Fitri tidak curiga dengan gerak geriknya. Sungguh Hana dibuat tak habis pikir bagaimana ia bisa makan di tempat yang sama dengan suaminya itu saat ini.
Di tengah lamunannya tentang Dika, Hana dibuat terkejut saat Arka tiba-tiba mengelap sudut bibirnya yang terkena noda makanan.
"Kau selalu saja ceroboh jika sedang makan." Ucap Arka sambil tersenyum.
"Eh..." Hana dibuat mati kutu. Ia tidak tahu harus membalas ucapan Arka. Terlebih ekor matanya dapat menangkap tatapan Dika yang semakin tajam menatap ke arahnya.
"Dokter Hana selain sering mual setelah melihat darah, ia juga sering belepotan jika sedang makan." Kelakar Fitri mengingat kebiasaan Hana ketika makan bersamanya.
"Fitri... tutup mulutmu. Kau mempermalukanku." Kecanggungan Hana pun semakin bertambah saat mendengar ucapan Fitri yang terdengar cukup keras.
"Hana, apa yang dikatakan Fitri itu benar." Tangan Arka pun tanpa sadar mengelus pundak Hana.
"Eh." Hana tersentak.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊