Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pemandangan tak biasa


Satu minggu kemudian.


"Alan dan Alana." Ucap Dika memperkenalkan nama kedua bayinya pada semua orang yang hadir di acara syukuran kedua bayinya siang itu.


"Alan... Alana..." seru Mama Rita dan Mama Puspa berbarengan sambil mencium Alan dan Alana yang kini sudah berada di dalam gendongan mereka.


"Nama yang manis..." ucap Kyara menatap kedua bayi lucu itu secara bergantian.


"Sama seperti dirimu, Sayang." Timpal Gerry yang tiba-tiba sudah berada di samping Kyara.


Kyara tersenyum mendengarnya. "Semakin hari kau semakin pandai berbual, Sayang." Balas Kyara.


"Tidak juga." Ucap Gerry lalu mengusap rambut Kyara dengan sebelah tangannya yang bebas.


"Mama..." ucap Rey yang kini berada dalam gendongan Gerry. Walau kesulitan untuk menggendong Rey karena bayi tampan itu selalu menolak untuk digendong, namun Gerry tetap menggendongnya karena tidak ingin putranya menghilang di tengah keramaian seperti saat ini.


"Ya? Apa Rey menginginkan sesuatu?" Tanya Kyara.


"Mau kue, Mama." Ucapnya seraya menunjuk deretan kue yang berada tak jauh dari mereka.


"Baiklah. Tunggu sebentar Mama akan mengambilkannya untuk Rey." Ucap Kyara sambil mengusap rambut tebal putranya.


"Biar aku saja, Sayang." Gerry menahan pergelangan tangan Kyara saat Kyra hendak berjalan.


"Kau tahu jelas bagaimana Rey, Sayang." Ucap Kyara lalu melepaskan cekalan tangan Gerry di lengannya.


Gerry menggelengkan kepalanya melihat Kyara yang tidak mau mendengar ucapannya. "Aku hanya merasa kasihan melihatmu keberatan menggendong Rachel yang semakin berisi." Gumam Gerry sambil menatap punggung Kyara.


"Papah, Tulun!" Pinta Rey semakin memberontak di dalam gendongan Gerry.


"Berjanjilah tidak lari kemana-mana jika Papa menurunkanmu." Ucap Gerry dengan tegas.


Rey mengangguk lalu semakin memberontak meminta diturunkan.


*


"Dimana Rey?" Setelah menghabiskan puding yang baru saja diambilkan oleh Gerry, Kyara tersadar jika putra kecilnya sudah tidak berada di meja yang sama dengannya.


Gerry pun menatap pada kursi yang tadi diduduki Rey. "Oh astaga... apa dia menghilang?" Ucap Gerry lalu segera bangkit dari duduknya.


"Mungkin saja Rey bosan menunggu kita makan hingga dia memutuskan untuk menghibur diri." Ucap Rania.


Wajah Kyara mulai panik. "Cepat cari Rey, Sayang." Pinta Kyara pada Gerry.


Gerry mengangguk lalu berjalan meninggalkan meja diikuti William di belakangnya.


"Jangan cemas seperti itu, Kya. Rey pasti tidak bermain jauh dari sini." Ucap Rania menenangkan sahabatnya yang nampak begitu cemas.


Kyara hanya diam sambil mengelus rambut Rachel. Ia tidak ingin bersuara karena bisa mengganggu Rachel yang kini tertidur dalam pangkuannya.


"Bagaimana ini? Kenapa Rey tidak terlihat keberadaannya?" Wajah Gerry pun mulai cemas karena tak kunjung menemukan putranya dimana-mana.


"Tenanglah. Putramu itu tidak menyukai keramaian. Lebih baik sekarang kita mencarinya di tempat yang jauh dari keramaian." Saran William.


Gerry mengangguk lalu berjalan ke arah taman yang menurutnya jauh lebih sepi dari tempat mereka saat ini. Saat sudah berada dekat taman Gerry dan William menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan tak biasa di depan mereka.


"Bukankah itu Tuan Rangga calon pewaris perusahaan Dharma?" Tanya William tanpa melepas pandangannya dari Rangga yang kini terlihat duduk berdampingan dengan Rey di kursi taman.


***


Kisah Baby Rey, Baby Yura dan Baby Flo akan terbit🖤


Berikan dukungannya dulu yuk untuk lanjut ke kisah anak-anak Kyara, Rania dan Vara🖤