
Pukul dua malam, Hana terbangun dari tidurnya saat merasa dadanya sesak karena kesulitan bernafas.
"Kenapa gelap sekali? Perasaan aku tidak mematikan lampunya sebelum tidur tadi." Hana memperhatikan sekelilingnya yang tidak menampakkan cahaya sedikit pun.
Prang
Suara bendah jatuh dari dalam kamarnya menbuat Hana terkejut. Hana memundurkan tubuhnya. Menatap kesekelilingnya yang gelap dengan tatapan takut.
"A-apa itu?" Bibir Hana bergetar. Meraba sekitar kasur untuk mencari letak ponselnya berada. "Di-dimana ponselku?" Hana semakin ketakutan karena tidak mendapatkan ponselnya.
Prang
Mendengar suara benda terjatuh untuk kedua kalinya semakin membuat tubuh Hana bergetar.
"Dika..." Hana memekik ketakutan. Dengan keberaniannya yang hanya tinggal sedikit, Hana turun dari ranjang lalu berjalan ke arah pintu dengan instingnya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar cukup keras membuat Dika terbangun dari tidurnya.
"Dika..." Hana berteriak memanggil nama Dika dengan gumpalan tangannya memukul pintu.
Mendengar suara Hana, Dika turun dari ranjangnya. "Mati lampu?" Gumam Dika saat menghidupkan saklar namun lampu kamarnya tidak hidup.
Dika berjalan ke arah pintu lalu membuka kuncinya. Baru saja pintu terbuka, tubuhnya hampir saja terhuyung ke belakang saat tiba-tiba saja Hana melompat ke dalam gendongannya.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Dika terdengar meninggi.
"Dika... a-aku takut." Ucap Hana dengan tergagap sambil mengeratkan pelukannya di leher Dika.
Mendengar suara Hana yang terdengar ketakutan, Dika kembali berbicara dengan suara yang lebih rendah. "Ada apa?" Tanya Dika.
"A-aku takut..."
"Takut? Apa yang kau takutkan?" tanya Dika lagi.
"Hantu?" Dika menggeleng tak percaya. "Kau jangan sembarangan bicara. Sekarang turun! Apa kau tidak sadar tubuhmu ini sangat berat!" Cetus Dika.
Hana menggeleng. "Kenapa lampu apartemenmu bisa mati? Aku takut." Hana mulai menangis.
Merasakan tubuh Hana yang semakin bergetar dan Hana mulai menangis, Dika akhirnya percaya jika Hana benar-benar ketakutan.
"Aku juga tidak tahu kenapa lampunya bisa mati. Biasanya tidak pernah seperti ini." Ucap Dika. Dika pun menahan tubuh Hana agar tidak terjatuh lalu membawanya berjalan ke arah ranjang.
"Jangan turunkan aku! Aku takut!" Hana semakin mempererat pelukannya saat Dika mencoba menurunkannya.
"Ada aku di sini. Tidak perlu takut." Balas Dika. Dika pun dengan hati-hati menurunkan tubuh Hana di atas ranjang.
"Dika, kau ingin kemana?" Hana menahan pergelangan tangan Dika saat merasakan Dika menjauh darinya.
"Aku hanya ingin mengambil ponselku." Balas Dika.
Hana tak lagi bersuara dan membiarkan Dika mengambil ponselnya.
Tak lama senter ponsel Dika pun hidup. Hana menatap ke sumber cahaya sehingga ia dapat melihat dengan sedikit jelas wajah Dika.
"Kenapa kau tidak menghidupkan senter ponselmu?" Tanya Dika.
"Aku tidak menemukannya. Aku sangat takut. Ada hantu di kamar tamu apartemenmu." Hana mulai menangis kembali.
Kening Dika mengkerut. "Hantu apa maksudmu? Kau jangan mengada-ngada. Tidak ada hantu di sini!" Cetus Dika.
"Hua..." Hana semakin menangis dengan kencang merasa Dika tak mempercayainya. "Di kamar tamu apartemenmu berhantu!" Ucap Hana di dalam tangisannya.
"Diamlah. Telingaku sakit!" Perintah Dika. Merasa bingung harus melakukan apa karena Hana terus menangis dengan alasan membingungkan, Dika memilih diam namun sebelah tangannya bekerja mengelus pundak Hana.
"Apa kau masih mau menangis sampai besok pagi?" Tanya Dika.
***
Lanjut?