Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Sulit memaafkan


Hari demi hari berganti namun Hana masih tetap dengan pendiriannya untuk tidak datang menemui papanya yang ia ketahui keadaanya saat ini sedang kritis di rumah sakit. Walau setiap hari Dika selalu membujuknya untuk datang ke rumah sakit sekedar melihat keadaan Papanya dari jarak jauh namun Hana masih bersikeras pada pendiriannya untuk tidak melihat papanya itu.


Rasa sakit yang telah digoreskan papanya selama ini sungguh membuat Hana berubah menjadi manusia batu yang sangat sulit untuk memaafkan apa yang telah dilakukan papanya dulu. Bukab hanya pada dirinya, namun juga pada Mamanya. Terlebih rasa sakit itu membuatnya harus melepas Dika dan membuat pria yang sangat dicintainya itu membencinya hingga bertahun-tahun lamanya.


"Hana masih tidak ingin datang?" Tanya Gerry seraya menatap sosok tak berdaya di depannya saat ini.


Dika mengangguk. Tatapannya nampak kosong menatap wajah mertuanya yang terlihat begitu pucat.


Gerry menghela nafasnya sesaat. "Apa kau tidak berusaha membujuknya?" Tanya Gerry.


Dika memutus pandangannya dari mertuanya lalu menatap datar pada Gerry. "Aku sudah melakukannya. Namun pertahanan Hana begitu sulit untuk diruntuhkan." Jelas Dika.


"Ayo keluar." Ajak Gerry yang sudah memahami situasi saat ini.


Dika memutar tubuhnya lalu melangkah keluar dari ruangan diikuti oleh Gerry.


"Aku rasa kau sudah tahu dengan jelas bagaimana keadaan Papa Hana saat ini." Ucap Gerry saat mereka sudah berada di dalam ruangan kerja Dika yang berada di lantai teratas rumah sakit.


Dika menyandarkan punggung lelahnya di sandaran kursi lalu memejamkan kedua kelopak matanya. "Istriku begitu sulit untuk dibujuk." Ucap Dika tanpa membalas ucapan Gerry.


"Aku tahu. Tidak mudah bagi Hana untuk melupakan begitu saja apa yang telah terjadi padanya selama ini." Balas Gerry. Selama ini Gerry cukup mengetahui bagaimana sulitnya kehidupan Hana dan Mamanya setelah pengkhianatan Papanya. Bahkan Hana rela mengorbankan cintanya karena merasa tidak pantas berada di sisi Dika.


Keheningan mulai menyelimuti pembicaraan mereka saat Gerry dan Dika hanyut dalam pemikirannya masing-masing.


"Menurutku ada baiknya saat ini kita menjemput Mama Hana." Ucap Gerry setelah cukup lama berpikir.


Dika menegakkan tubuhnya kembali. "Apa maksudmu?" Tanya Dika.


"Setidaknya saat ini kau bisa melakukan hal yang mungkin bisa terjadi sebelum meruntuhkan pertahanan Hana. Aku tidak yakin dengan kondisi Papa Hana saat ini kita masih bisa membuang banyak waktu." Ucap Gerry penuh arti.


"Apa kau yakin?" Tanya Gerry.


Dika mengangguk pasti. "Sebelum semuanya terlambat." Balas Dika.


Gerry mengangguk membenarkan lalu bangkit dari duduknya. "Apa kau tidak mengabari Hana lebih dulu?" Tanya Gerry saat Dika mengambil kunci mobilnya.


"Aku akan mengabarinya nanti." Balas Dika lalu berjalan menuju pintu ruangan kerjanya.


Baru saja selangkah kaki Dika keluar dari dalam ruangan kerjanya Dika sudah dikejutkan dengan keberadaan William yang sedang berbicara dengan asisten pribadinya.


"Kalian ingin kemana?" tanya William sambil menatap kunci mobil yang masih berada di tangan Dika.


"Kami ingin menjemput Tante Rita." Balas Gerry.


William mengangguk paham. "Kalau begitu aku ikut. Aku akan membantu Dika membujuk Tante Rita untuk datang ke sini." Ucap William sungguh-sungguh.


"Terserah kau saja." Balas Dika lalu kembali melanjutkan langkahnya.


***


Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.


Sambil menunggu BSM update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Takdir Setelah PerpisahanšŸ–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.