
"Sialan!" Umpat Dika saat otaknya tidak bisa berpikir dengan baik untuk menemukan solusi dari permasalahannya saat ini selain menikahi Hana. Hari ini sudah hari ke dua ia memikirkan cara agar kedua orang tuanya yang kini tengah mendiamkannya tidak lagi marah kepadanya.
"Ada apa denganmu?" Tanya Gerry yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Dika yang tengah berdiri di balkon apartemennya.
Dika membalikkan tubuhnya. Menatap Gerry dengan tajam. "Kau pasti tahu siapa yang telah menjebakku hingga terperangkap dalam kondisi sialan ini!" Cecar Dika.
Kening Gerry mengkerut. "Aku?" Menunjuk wajahnya. "Bagaimana aku bisa tahu? Kau tahu jelas jika aku meninggalkan hotel tak lama setelah kau pamit pergi untuk tidur." Kilah Gerry.
Dika menghembuskan nafas kasar di udara. Saat ini ia sangat ingin menemukan samsak dan memukulnya habis-habisan. Dika mengalihkan pandangan dari Gerry lalu kembali menatap lurus ke depan.
Melihat sahabatnya yang begitu kacau, Gerry melangkah maju lalu menepuk pelan pundak Dika. "Jangan terlalu memaksa otakmu untuk berpikir jika sampai saat ini kau tidak dapat menemukan solusinya." Ucap Gerry sambil memasang wajah prihatin walau Dika tak melihatnya.
"Apa maksudmu?" Dika yang sudah malas berpikir pun bertanya.
"Orang tuamu benar, menikahi Hana adalah jalan satu-satunya. Kau sudah tidur dengannya walau tidak menidurinya. Dan efek dari perbuatanmu itu akan membuat kau dan Hana bermasalah nantinya jika ada oknum yang memanfaatkan situasi ini." Tutur Gery.
Dika terdiam. Ucapan Gerry ada benarnya. Terlalu banyak musuh di luar sana yang saat ini mungkin saja sedang mencari cela untuk menjatuhkan keluarganya. Bisa saja mereka memanfaatkan situasinya saat ini untuk menghancurkan keluarganya. Apa lagi kejadiannya terjadi di hotel ternama di kotanya.
"Kau tahu jelas aku tidak bisa menerimanya begitu saja setelah apa yang dia lalukan padaku. Aku sangat membenci pengkhianatan yang telah dia lakukan!" Wajah Dika nampak tegang ketika mengingat pengkhianatan Hana beberapa tahun silam. Dika memang telah menjelaskan pada Gerry kejadian yang sebenarnya beberapa minggu lalu saat Gerry selalu mendesaknya untuk menanyakan Hana meninggalkannya.
"Aku tahu. Tapi kau tidak pernah bertanya alasan Hana melakukannya. Bisa saja dia hanya bersandiwara." Gerry berusaha memancing Dika.
"Kau terlalu keras kepala. Berdamailah dengan masa lalu dan terima keadaan yang harus kau jalani ke depannya. Ingat, iangan sampai kau menyesalinya."
Dika terdiam.
"Kabari aku secepatnya jika kau sudah mengambil keputusan. Jika kau menyetujui untuk menikahi Hana, besok kita akan menjemput orang tua Hana." Gerry menepuk kembali pundak Dika.
Dika menahan Gerry yang hendak pergi dengan memegang lengannya. "Aku setuju." Ucap Dika tiba-tiba.
Gerry terdiam. Bibirnya sangat sulit untuk tidak menyunggingkan senyuman melihat keputusasaan Dika saat ini.
"Baiklah. Besok kita temui orang tua Hana. Kau ingat bukan jika orang tuamu hanya meminta waktu satu minggu untuk kalian menikah?" Tanya Gerry.
"Aku tahu. Kau tidak perlu mengingatkanku!" Cetus Dika.
Gerry tersenyum tipis. "Bagus, aku pergi dulu. Silahkan menikmati masa lajangmu sebelum beberapa hari lagi kau sudah berstatus sebagai suami dari mantan terindahmu." Ucap Gerry diakhiri senyuman mengejek di bibirnya.
***