
"Dika..." Hana melangkah mendekat ke arah Dika. Pandangannya tak lepas dari kucing kecil yang terlihat sangat menggemaskan di matanya.
Dika menoleh ke arah belakang. "Ada apa?" Tanya Dika.
"Ini kucing siapa?" Tanya Hana tanpa mengalihkan pandangan dari kucing kecil yang sangat lucu itu.
"Kucing ini milik Mamaku." Balas Dika.
"Milik Mamamu? Tapi kenapa aku baru melihatnya." Kening Hana mengkerut bingung.
"Bagaimana bisa kau tidak melihatnya? Dia bersembunyi di kamarmu tadi malam. Dan aku baru menemukannya pagi ini." Dika pun turut bingung dengan pertanyaan Hana.
"Bersembunyi di kamarku?" Hana kembali bertanya.
Dika pun mengalihkan pandangan pada kucingnya dan tak lagi menjawab pertanyaan Hana.
"Hai cantik... siapa namamu?" Hana berjongkok. Mengelus lembut bulu kucing yang sudah mencuri perhatiannya itu.
"Comel." Dika yang menjawab.
"Comel? Apanya yang comel? Aku kan bertanya siapa namanya." Ucap Hana.
"Kau bertanya dan aku sudah menjawabnya." Balas Dika.
Kening Hana semakin mengkerut. Melihat itu Dika pun menggeleng.
"Namanya Comel." Jelas Dika.
Kepala Hana pun akhirnya mengangguk. "Oh... namanya Comel? Aduh lucunya!" Tanpa sadar Hana mencubit lengan Dika. Menyadari kesalahannya, Hana pun menjauhkan tangannya. Apa lagi saat ini Dika tengah menatapnya tajam.
"Apa tanganmu itu terbuat dari capit kepiting?" Tanya Dika dengan wajah datarnya.
"Capit kepiting?" Kening Hana kembali mengkerut. Matanya nampak menyipit.
"Ya. Capit kepiting. Apa ku sabar cubitanmu itu sangat pedih."
Hana melipat bibirnya saat menyadari maksud ucapan Dika.
"Haha... kau ini bisa saja." Hana mengalihkan pandangan ke arah lain saat menyadari kesalahannya cukup fatal.
Dika mendengus tanpa menjawab.
"Kenapa namanya Comel? Sungguh lucu." Ucap Hana mengalihkan percakapan mereka.
"Entahlah. Tanyakan saja Mamaku." Balas Dika.
Dika pun bangkit dari jongkoknya lalu menggendong Comel.
"Kau ingin membawanya kemana?" Tanya Hana.
"Ke kandangnya." Balas Dika lalu melangkah ke arah dapur.
Hana pun mengikuti langkah Dika.
"Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Kau ingin mandi dulu atau sarapan?" Tanya Dika setelah memasukkan Comel ke dalam kandangnya.
"Aku ingin mandi dulu. Aku tidak biasa sarapan sebelum mandi." Balas Hana.
Dika mengangguk paham. "Aku sudah meletakkan baju dan hoodie untukmu di atas ranjang."
"Hoodie?" Kening Hana mengkerut.
"Ya. Apa kau mau memakai dalaman yang sama setelah mandi nanti?"
Hana menggeleng.
"Karena itu aku memberikan hoodie untukmu agar bentuk tubuhmu tidak kelihatan." Jelas Dika.
Hana terdiam. Menatap Dika sesaat lalu mengembangkan senyumannya. "Kau ini sungguh pengertian sekali." Ucapnya malu-malu.
Dika menarik sebelah bibirnya ke samping. "Aku terpaksa melakukannya karena aku tidak ingin mataku tercemari dengan bentuk dadamu yang kecil itu." Cetus Dika.
Senyuman di wajah Hana luntur seketika. "Sudah dua kali kau mengatai dadaku kecil!" Geram Hana.
"Aku berbicara sebuah fatka." Dika memasang wajah begitu menyebalkan di wajah Hana.
Senyuman miring nampak tercetak di wajah Hana. "Sepertinya kau perlu pembuktian jika dadaku ini tidak kecil." Hana mulai memainkan kaos putih yang dikenakannya.
Melihat itu Dika pun mengkerutkan keningnya. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya bingung.
"Aku ingin membuktikan pada pria batu sepertimu jika apa yang kau katakan itu tidak benar." Mulai mengangkat kaos yang dikenakannya.
Dika terdiam namun raut wajahnya nampak berubah tegang. Melihat ekspresi Dika, rasanya Hana sangat ingin tertawa melihatnya.
***
Berikan dukungan untuk karya Shy yuk!Dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Terimakasih