
"Dika tunggu!" Hana menahan pergelangan tangan Dika saat Dika pergi begitu saja setelah menciumnya.
Langkah Dika terhenti. Dika menatap datar wajah Hana seolah kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya.
"Kenapa kau pergi begitu saja setelah menciumku? Kau bahkan belum menjelaskan maksud ucapanmu." Cecar Hana.
"Aku pergi karena aku ingin mengambilkan minum untukmu." Jelas Dika tak ingin Hana salah paham.
"Aku tidak ingin minum. Aku hanya ingin penjelasan darimu." Tekan Hana.
Dika memajukan tubuhnya hingga membuat jantung Hana berdegub kencang. Tangan Dika terangkat mengelus rambut Hana.
"Penjelasan apa yang kau inginkan?" Tanya Dika dengan lembut.
"A-apa benar kau mencintaiku?" Tanya Hana.
Dika mengangguk. "Aku benar-benar mencintaimu."
"Di-dika..." Hana menggeleng tak percaya atas apa yang ia dengar baru saja. "Kau tidak sedang membohongiku bukan?" Tanyanya memastikan.
Dika menggeleng lalu membawa tubuh Hana ke dalam pelukannya. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu."
Hana mengangkat kepalanya hingga kini tatapan mereka bertemu. Hana berjinjit menyamakan tingginya dan Dika. Lalu dengan malu-malu Hana memberanikan dirinya mencium bibir Dika lebih dulu.
Dika dibuat terkejut dengan tindakan Hana. Namun sesaat kemudian Dika pun bekerja membalas ciuman Hana hingga ciuman lembut itu pun berubah memanas.
"Kenapa?" Tanya Hana saat Dika melepaskan ciumannya.
Dika menyatukan keningnya dan kening Hana. "Bagaimana denganmu? Apa kau memiliki perasaan yang sama denganku?" Tanya Dika.
"Aku juga mencintaimu." Balas Hana tanpa ragu.
Dika melebarkan senyumannya. Senyuman yang tidak pernah Hana lihat sebelumnya. Wajah mereka pun semakin maju hingga ciuman lembut itu pun kembali terulang.
"Apa saat ini kita sudah bisa disebut sebagai pasangan kekasih sungguhan?" Tanya Hana setelah Dika kembali melepas ciumannya.
Dika menarik sebelah bibirnya ke samping. "Menurutmu?" Tanyanya kembali dengan nada menggoda.
Dika tersenyum lalu membawa tubuh Hana kembali ke dalam dekapannya.
"Apa kau menjauhiku karena Liza?" Tanya dika.
Hana mengangguk. "Aku hanya ingin menjaga hatiku agar tidak terluka dan berharap kepadamu." Balas Hana.
Dika mengelus lembut rambut Hana. "Jangan pernah menyimpulkan sesuatu jika kau tidak tahu fakta yang sebenarnya."
Hana mengangguk paham. "Aku anggap hari ini kita sudah menjadi kekasih sungguhan."
Dika mengangguk sebagai jawaban. "Jangan lagi mencoba menjauhiku." Tekan Dika.
"Tidak akan." Balas Hana.
*
Kedatangan Hana dan Dika kembali ke kampus siang itu membuat Amel bertanya-tanya saat melihat wajah Hana yang nampak bahagia berjalan beriringan bersama Dika.
"Amel!" Seru Hana saat melihat Amel tengah menatapnya dengan intens.
Amel melangkah maju mendekati Hana. "Apa kau baru saja kesurupan? Kenapa wajahmu senyum-senyum sendiri?" Tanya Amel merasa bingung.
Hana mengalihkan pandangannya pada Dika yang nampak tak menunjukkan ekspresi apa-apa. "Aku akan menceritakannya nanti malam padamu dan Anin di rumahku. Sekarang lebih baik kita segera masuk ke dalam kelas." Ajak Hana.
Amel mengangguk sebagai jawaban. Pandangannya sejenak tertuju pada Dika seolah mencaritahu ada hal apa yang terjadi pada Dika dan Hana hingga Hana terlihat begitu bahagia. Namun Amel tak mendapatkan petunjuk jawaban apa-apa di wajah datar Dika saat ini.
Hana masuk ke dalam kelas dengan senyuman yang tak surut di wajahnya. Saat melihat Liza tengah menatap ke arahnya, Hana memberanikan diri bergelayut manja di lengan Dika hingga sampai di tempat duduk Dika.
Rasakan itu. Kau pasti gerah saat ini ya kan? Batin Hana menyeringai.
***
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰