
"Apa kau masih mau tetap di sini? Aku ingin mandi." Ucap Hana karena Dika hanya diam saja sambil menatap wajahnya.
"Apa kau yakin bisa membersihkan tubuhmu sendiri?" Tanya Dika tanpa menjawab pertanyaan Hana.
Hana mengangguk. "Aku sudah tidak apa-apa." Balas Hana.
"Aku akan keluar." Ucap Dika lalu keluar begitu saja dari dalam kamar mandi.
"Syukurlah..." Hana menghela nafas lega setelah kepergian Dika. "Jantungku terasa ingin keluar saja ditatap seperti itu olehnya." Gumam Hana menatap pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup dari luar. Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Hana pun melanjutkan niatnya yang ingin mandi.
Sedangkan di luar kamar mandi, Dika nampak diam dengan pemikiran bertanya-tanya tentang kondisi Hana pagi ini yang tidak seperti biasanya. "Ada apa dengannya?" Tanya Dika yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan Hana.
*
"Hari ini aku membawa mobil sendiri saja, ya." Ucap Hana setelah menghabiskan sarapannya pagi itu.
"Aku akan mengantarkanmu." Ucap Dika tanpa menjawab ucapan Hana.
"Tapi aku ingin membawa mobil sendiri saja. Hari ini banyak kegiatan yang harus aku hadiri. Dan akan merepotkan jika aku tidak membawa kendaraan." Terang Hana.
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Dika. Wajahnya terlihat tidak bersahabat.
"Siang ini aku akan menghadiri seminar di gedung internasional yang jaraknya lumayan jauh dari rumah sakit." Ucap Hana.
Dika mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu melihat pesan jadwal kegiatannya hari ini yang baru saja dikirimkan asistennya. Dika mendesah-kan nafas kasar di udara saat melihat begitu padat kegiatannya hari ini. Dan tidak mungkin ia bisa mengantarkan Hana untuk pergi seminar dan menjemputnya kembali.
"Hanya untuk hari ini." Putusnya kemudian.
Senyuman di wajah Hana terkembang. Buru-buru ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah tangga untuk naik menuju kamarnya. Hana ingin mengambil kunci mobilnya yang masih berada di laci nakas dan mengambil ponselnya yang ketinggalan di atas ranjang.
"Aku berangkat dulu." Ucap Hana saat sudah masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Dika masih berdiri di samping mobilnya.
Dika hanya mengangguk lalu mengisyaratkan untuk hati-hati. Dengan hati riang dan gembira, Hana mulai melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumahnya. "Untung saja dia tidak curiga dengan alasanku." Ucap Hana begitu senang. Hana pun meraih ponselnya lalu melakukan panggilan telefon dengan Gerry.
"Aku sudah tidak sabar menantikan hari esok." Ucap Hana dengan senyum merekah di wajahnya. Walau hatinya begitu tidak tenang dan gugup untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya pada Dika, namun Hana tetap percaya jika usahanya tidak akan berujung sia-sia.
*
Pukul sepuluh pagi, Hana terlihat memasuki hotel keluarga Dharma yang akan menjadi tempat perayaan ulang tahun Dika esok hari. Hana memilih merayakan ulang tahun Dika di salah satu kamar hotel yang telah dipersiapkan oleh Gerry dan William untuknya.
"Gerry... William." Ucap Hana saat sudah masuk ke dalam kamar hotel.
"Hana, kau sudah datang?" Gerry tersenyum menatap Hana yang kini berjalan ke arahnya.
Hana tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Hana, apa kau yakin akan merayakan ulang tahun Dika di sini saja?" Tanya William.
Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku ingin memberikan hadiah spesial ulang tahun untuk Dika di sini dulu dan setelahnya kita akan merayakannya di rumah orang tua Dika." Ucap Hana lalu tersenyum.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui jadwal update.