
Bibi pun menaiki anak tangga satu persatu hingga akhirnya berada di lantai dua. "Nyonya..." ucapnya semakin panik melihat wajah Hana yang kesakitan.
"Bibi tolong Hana..." ucap Hana seraya meringis.
"Nyonya Hana.... apa anda ingin melahirkan?" Tanya Bibi yang sudah paham atas apa yang terjadi.
Hana mengangguk tanpa bersuara. Dari tanda-tanda yang ia alami sejak tadi malam kini ia sudah sadar jika kedua bayinya sudah mendesak ingin dikeluarkan.
"Tolong bawa Hana ke rumah sakit." Rintih Hana.
"Tunggu sebentar Nyonya. Bibi akan menelfon Tuan Dika lebih dulu." Ucap Bibi.
Hana menahan pergelangan tangan Bibi hingga pergerakan wanita itu terhenti. "Telfon Mama saja." Pintanya yang sudah sangat kesakitan.
Bibi mengangguk paham lalu berjalan ke arah telefon rumah. Setelah melakukan panggilan telefon dengan Mama Rita, Bibi pun kembali pada Hana.
"Ayo saya bantu berdiri, Nyonya." Ucap Bibi berusaha untuk tetap tenang.
Hana mengangguk lalu bangkit dari duduknya dengan dibantu Bibi.
"Bibi... perut Hana sangat sakit." Rintih Hana sambil menangis.
Bibi pun menghentikan langkahnya membantu Hana untuk turun. "Bagaimana ini? Saya sangat takut membantu nyonya untuk turun jika seperti ini." Ucap Bibi yang mulai kembali panik.
"Hiks... sakit..." Hana memegang perutnya yang terasa semakin sakit.
Merasa tak tega dengan kondisi Hana, Bibi pun menguatkan tenaganya membahtu Hana menuruni tangga hingga akhirnya sampai di lantai bawah.
"Hana..." Mama Rita yang baru saja sampai di rumah seketika berlari ke arah Hana. "Apa kau sudah ingin melahirkan?" Tanya Mama Rita dengan wajah cemas.
Hana mengangguk mengiyakan. "Sakit... perut Hana sakit..." rintih Hana. Tangisannya pun terdengar semakin kencang.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Mama Rita lalu turut membantu Hana berjalan ke luar rumah.
"Mamah tas bayi Hana..." ucap Hana mengingat perlengkapan bayinya.
Mama Rita mengangguk paham. "Jaga Hana sebentar." Ucapnya pada Bibi lalu berlari masuk ke dalam rumah. Dengan tergesa-gesa Mama Rita menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di lantai dua dan segera berlari ke arah kamar Hana. Setelah mendapatkan apa yang Hana inginkan Mama Rita pun kembali turun dengan langkah yang tak kalah tergesa-gesa.
"Cepat jalankan mobilnya!" Titah Mama Rita pada sopir.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah.
"Mama sakit..." pegangan tangan Hana di lengan Mama Rita semakin kuat saat merasa kedua bayinya semakin mendesak ingin keluar dari dalam perutnya.
"Sabarlah, Sayang.... kita akan segera sampai." Ucap Mama Rita dengan wajah yang sudah semakin panik.
"Sakit..." Hana pun melampiaskan rasa sakitnya dengan menggigit kuat lengan Mama Rita.
"Oh sayang..." Mama Rita tak kuasa menahan air matanya melihat Hana yang kini semakin kesakitan. "Lebih cepat lagi, Pak!" Titahnya pada sopir kerena sudah tidak tega melihat raut kesakitan di wajah Hana.
"Hiks..." Hana terus menangis sambil memegang lengan Mama Rita untuk menyalurkan rasa sakitnya.
Dua puluh menit berlalu akhirnya mobil pun telah sampai di perkarangan rumah sakit milik Dika.
"Hana?" Arka yang baru saja keluar dari rumah sakit dibuat terkejut melihat Hana yang baru saja keluar dari dalam mobil sambil menangis kesakitan.
***
Lanjut?
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.