Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Mereka akan datang


"Saya tidak memperdulikan itu semua, Fitri. Tidak ada perbedaan derajat di antara kita. Bukankah dimata Tuhan kita semua adalah sama? Lantas bagaimana kita yang hanya berstatus sebagai umatnya bisa membeda-bedakannya." Ucap Arka dengan tegas.


Fitri terdiam. Kesepuluh jemarinya saling bertaut. Wajah cantiknya nampak gugup sekaligus pucat menanti ucapan Arka selanjutnya.


"Jadi bagaimana? Apa kau masih ingin membawa derajat sebagai alasan menolak ungkapan perasaanku? Apa kau belum sepenuhnya mendapatkan pelajaran penting dari kisah Hana dan Dika yang terjebak dalam sebuah kesalahpahaman hingga membuat mereka berpisah selama enam tahun lamanya?" Tanya Arka.


Fitri terdiam. Hati dan pemikirannya saat ini bekerja tidak sejalan untuk membalas ungkapan cinta Arka. Jujur saja perbedaan derajat di antara mereka membuatnya merasa tak pantas memiliki Arka. Hana yang berstatus sebagai dokter saja begitu minder berdampingan dengan Dika yang juga berstatus sebagai seorang dokter. Lalu bagaimana dengannya yang hanya berstatus sebagai seorang perawat? Tentu saja ketidakpercayaan dirinya jauh lebih rendah dibandingkan Hana.


Melihat Fitri yang masih bingung dan bimbang membuat Arka menghela nafas panjang. "Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab saat ini. Namun aku harap besok malam kau sudah mendapatkan jawaban atas ungkapanku saat ini." Ucap Arka tak ingin memaksa. Lagi pula besok malam ia sudah mengajak Fitri untuk makan malam bersama dan ia bisa kembali menanyakan kembali jawaban atas ungkapan perasaanya pada Fitri di sana.


"Kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Arka setelah melihat jam di pergelangan tangannya sudah hampir menunjukkan waktu pertemuannya dengan pasiennya.


Fitri mengangguk. "Saya akan memikirkannya sampai besok." Ucap Fitri setelah Arka bangkit dari duduknya.


Arka tersenyum lalu melangkah meninggalkan Fitri yang masih duduk di kursi taman. Setelah melihat sosok Arka semakin jauh dari pandangannya, Fitri menghela nafasnya yang kian memberat.


"Apa Dokter Arka serius pada perasaanya? Aku hanya takut dia sedang salah paham menafsirkan apa yang dirasakannya saat ini." Gumam Fitri.


*


Sabtu pagi hari itu, Hana terlihat tak menyurutkan senyumannya setelah mendapatkan telefon dari kedua sahabatnya yang mengatakan jika mereka akan datang menemuinya esok hari di rumahnya.


"Sayang... ada apa ini?" Dika yang baru saja masuk ke dalam kamar nampak cemas dan salah paham mengartikan air mata yang mengalir di pipi istrinya. "Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanyanya begitu cemas.


Hana tersenyum melihat kekhawatiran di wajah suaminya. "Aku tidak apa-apa." Balas Hana.


"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau sedang menangis. Apa ada yang mengganggu hati dan pemikiranmu, hem?" Tanya Dika.


"Tidak. Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku sedang menangis bahagia karena besok Amel dan Fitri akan datang menemuiku." Ungkap Hana.


Kecemasan di wajah Dika perlahan luntur. "Benarkah? Mereka akan datang menemuimu besok?" Tanya Dika menampilkan ekspresi terkerjut.


"Ya. Mereka akan datang dan aku sangat senang sekali." Ucap Hana seraya tersenyum lebar.


Dika turut tersenyum. Senyuman yang jika diperhatikan sangat penuh arti.


Akhirnya mereka mau mengabulkan permintaanku untuk datang menemui Hana. Batin Dika.


***


Lanjut? Vote dan komen dulu yuk🖤