Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Sungguh berisik!


"Bunda... ayo bantu Yula duduk sini." Pinta Yura menunjuk kursi kosong yang bersebelahan dengan Rey.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Aidan menatap tak suka pada adiknya.


"Yula tidak melakukan apa-apa." Balas Yura dengan enteng. "Ayo Bunda bantu Yula duduk samping Kak Rey." Pinta Yura lagi pada Vara.


Vara mengangguk lalu membantu Yura untuk duduk di kursi samping Rey.


"Anak itu..." gumam Aidan menatap tak suka pada adiknya.


"Kak Aidan, apa Kakak mau duduk juga?" Tanya Yura dengan wajah polosnya.


"Tidak." Tukas Aidan.


Yura mengangguk saja tanpa memperdulikan reaksi Aidan saat ini.


"Kak Rey... Yula sungguh senang Kak main sini lagi." Ucap Yura yang sudah menunjukkan wajah malu-malu.


Rey menoleh. Menatap wajah malu-malu Yura dengan wajah malas. "Karena Mama yang mengajakku." Balas Rey singkat.


"Aunty Mama... makasi sudah bawa Kak Rey sini." Ucap Yura semakin malu pada Kyara.


Kyara tersenyum lebar mendengarnya. Antara gemas dan lucu ia rasakan mendengar ucapan Yura saat ini.


"Aunty Mama? Panggilan seperti apa itu?" Tanya Aidan lirih.


"Sama-sama. Apa Yura senang berteman dengan Rey?" Tanya Vara lembut.


"Tentu saja. Yula suka Kak Rey ini Aunty Mama." Ucap Yura lalu menunduk malu.


"Yura..." Vara mengelus gemas rambut putrinya. "Yura itu masih kecil dan belum sepantasnya berkata suka pada lawan jenis seperti ini." Tutur Vara.


"Nda boleh ya, Bunda?" Tanya Yura. Wajahnya yang ceria berubah masam.


"Bukan tidak boleh, tapi belum saatnya." Balas Vara mencoba memberi pengertian.


"Tapi Yula suka Kak Rey." Ucap Yura mengungkapkan keinginannya.


"Diamlah, kau terlalu banyak berbicara." Ucap Aidan tak ingin Yura semakin sembarangan berbicara.


"Sudah, sudah. Sekarang lebih baik Aidan ikut Bunda ke belakang untuk membuatkan pesanan Aunty Kyara." Ajak Vara.


Aidan mengangguk saja lalu berjalan lebih dulu menuju dapur.


"Ayura, apa kau mau ikut Bunda ke belakang?" Tawar Vara.


Yura dengan cepat menggeleng. "Yula di sini saja ya, Bunda." Ucapnya dengan mata berkedip-kedip.


Vara menghela nafasnya lalu mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya ia pun menitipkan Yura pada Kyara.


"Kak Yula..." Rachel yang sudah cukup pandai menyebut nama Yura pun menatap tersenyum pada Yura yang kini sudah kembali menatap Rey dengan wajah malu-malu.


"Adik Lachel..." balas Yura setelah memutus tatapan matanya dari Rey.


"Ehe... Mamah..." Rachel pun turut tersenyum malu-malu mendapat senyuman manis dari Yura.


"Bisakah kau diam?" Ucap Rey saat Yura hendak kembali berbicara pada Rachel.


"Rey..." Kyara menatap penuh peringatan pada putranya.


Rey menghela nafasnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sudah dapat ia tebak sebentar lagi Yura dan Rachel akan turun dari kursi masing-masing dan berlari ke sekeliling dalm Cafe seperti biasanya.


Dan benar saja, tak mendapatkan respon darinya saat diajak berbicara, Yura pun mengajak Rachel untuk bermain lebih dulu sembari menunggu pesanan mereka datang.


"Mereka sungguh berisik!" Gumam Rey menatap malas pada Yura dan Rachel yang sudah berkeliaran kemana-mana.


"Rey.... tidak boleh seperti itu." Tegur Kyara.


"Baik, Ma." Balas Rey patuh lalu memilih menatap ke arah luar cafe yang menampakkan ramainya motor mahasiswa yang sedang berlalu-lalang di jalan raya.


***


Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.


Sambil menunggu BSM update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Takdir Setelah PerpisahanšŸ–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.