
"Wanita dedemit itu sungguh menyebalkan!" Hana menghentakkan kedua kakinya saat baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah selesai membantu Mama Puspa menyiapkan makan malam. "Jika tidak mengingat saat ini aku sedang berada di rumah mertua aku tidak akan segan untuk mencekiknya!" Geram Hana.
"Siapa yang ingin kau cekik?" Suara Dika yang terdengar dari belakang tubuhnya membuat Hana terlonjak kaget.
"Di-dika... sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Hana sambil mengelus dadanya.
Dika hanya diam dan melalui Hana begitu saja menuju sofa.
Apa Dika mendengar ucapanku sejak tadi? Tanya Hana dalam hati. Kakinya pun melangkah menuju arah kamar mandi.
"Kau ingin kemana?" Tanya Dika saat Hana melewatinya begitu saja.
"Aku ingin ke kamar mandi. Tubuhku sudah sangat lengket dan ingin dibersihkan." Balas Hana.
"Pergilah dan jangan terlalu lama." Tekan Dika.
Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kenapa dia berbicara seperti itu? Memangnya siapa yang ingin berlama-lama di kamar mandi." Gumam Hana sambil terus berjalan ke kamar mandi. Hana tidak menyadari jika waktu mandinya yang terlalu lama membuat Dika sering kesal karena menunggunya.
Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit di dalam kamar mandi, Hana pun keluar dengan wajah tak bersalahnya. Ia terus berjalan ke arah meja rias tanpa memperdulikan wajah kesal Dika yang sejak tadi menunggunya.
"Kau terlalu lama!" Cetus Dika lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Hana menggaruk keningnya yang tak gatal. "Terlalu lama bagaimana? Padahal tadi aku sudah memangkas waktu mandiku agar lebih cepat." Balas Hana walau Dika tak mendengarnya.
Beberapa menit kemudian Dika pun keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya. "Setelah makan malam siapkan baju untuk aku pergi selama seminggu ke luar kota." Ucap Dika sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Hana dibuat terdiam. Pandangannya tertuju pada Dika dengan wajah bingung. "Apa dia memintaku untuk menyiapkan baju kerjanya?" Gumam Hana.
"Apa kau mendengar ucapanku?" Tanya Dika menatap Hana dengan datar.
Hana dengan cepat mengangguk. "Aku akan menyiapkan setelah makan malam." Balasnya dengan tersenyum kaku.
*
"Dika, apa kau jadi pergi ke luar kota besok pagi?" Tanya Mama Puspa setelah mereka siap melakukan makan malam.
Dika mengelap bibirnya dengan tisu lalu mengangguk.
"Berapa hari kau akan pergi?" Tanya Mama Puspa.
"Satu minggu. Namun jika pekerjaan Dika cepat selesai Dika akan pulang segera." Balas Dika.
Mama Puspa mengangguk paham. Pandangannya beralih pada Hana yang tengah menatap wajah Dika dengan kening mengkerut.
"Hana... kenapa kau menatap suamimu seperti itu?" Tanya Mama Puspa sambil menahan senyumannya melihat wajah lucu Hana.
"Eh, tidak... Hana hanya..." Hana menggaruk keningnya yang tidak gatal. Ia sungguh merasa malu ketahuan sedang memperhatikan wajah Dika.
Mama Puspa tersenyum. Begitu pula dengan Papa Indra. Namun tidak dengan Liza yang tengah menyembunyikan kekesalannya pada Hana.
"Mama, Papa, kalau begitu Dika dan Hana pamit dulu kembali ke kamar karena Hana ingin menyiapkan pakaian untuk Dika selama berada di luar kota." Pamit Dika lalu bangkit dari duduknya.
Hana seketika menggeser kursinya ke belakang lalu ikut bangkit.
"Ayo kita ke kamar." Ucap Dika dengan lembut sambil memegang tangan Hana.
Eh?
***