
Satu minggu sudah Dika pergi ke luar kota bersama Gerry untuk memantau pembangunan Cafe yang akan menjadi ladang bisnis mereka selanjutnya. Selama satu minggu berada di luar kota, entah mengapa Dika merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya. Apa lagi akhir-akhir ini Hana sangat jarang membalas pesannya bahkan nomor ponselnya sering tidak bisa dihubungi.
"Hana, ada apa denganmu? Aku sungguh tidak tenang." Dika menatap jalanan yang cukup padat sore itu. Perjalanannya kembali ke kotanya hampir memakan waktu lima jam lagi dan Dika yakin saat ia sampai sudah waktunya Hana tidur.
Dika menghela nafas panjang. Rasanya ia sudah tidak sabar sampai di kotanya dan memastikan keadaan kekasih hatinya itu. Dika kembali meraih ponselnya yang ia letakkan di dalam saku celananya. Jemarinya mulai mengetik di layar ponselnya mengirim pesan pada Hana l.
"Tidak aktif." Lirih Dika. Mengusap kasar wajahnya lalu menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi.
"Ada apa?" Tanya Gerry yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Dika.
Dika menggeleng. Ia sedang tidak ingin berbagi masalah dengan sahabatnya saat ini. Melihat respon Dika, Gerry pun mengangguk saja karena ia sudah paham Dika sedang tidak ia mengetahui masalahnya.
Akhirnya setelah melewati lima jam lebih perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di kota. Dika kembali menghubungi nomor Hana namun tetap tidak aktif.
"Bisakah kau mengantarkanku ke rumah Hana lebih dulu?" Dika menatap Gerry dengan tatapan permohonan.
"Baiklah." Gerry memutar arah mobilnya menuju jalan ke rumah Hana.
"Terimakasih." Ucap Dika yang diangguki oleh Gerry.
Dua puluh menit kemudian mereka pun telah sampai di depan rumah Hana.
"Apa kau tidak ingin turun?" Tanya Gerry pada Dika yang terlihat hanya diam saja dengan pandangan tertuju ke rumah Hana.
Dika menggeleng. "Di pasti sudah tidur."
Gerry menatap ke arah rumah Hana. Lampu dalam rumah Hana nampak sudah mati dan kemungkinan besar penguni di dalamnya sudah tidur.
Cukup lama Dika dan Gerr berdiam diri di dalam mobil sambil menatap rumah Hana.
Gerry menatap pada Dika lalu mengangguk. Mobi pun mulai melaju meninggalkan rumah Hana.
*
"Syukurlah Mama sudah mulai sehat kembali." Hana melebarkan senyumannya menatap punggung Mamanya yang sedang memasak di dapur pagi itu.
"Mama..." Hana mendekat ke arah Mama Rita.
"Hana... apa kau ingin berangkat ke kampus?" Tanya Mama.
Hana mengangguk. "Masih ada berkas yang harus Hana urus buat pendaftaran wisuda, Ma." Hana tersenyum saat sudah berada di samping mamanya.
Mama Rita turut tersenyum. "Kau tidak ingin sarapan lebih dulu? Mama sudah hampir selesai memasak nasi gorengnya." Mama Rita mengarahkan pandangannya pada nasi goreng di dalam kuali.
"Dibungkus saja ya, Ma. Hana sarapan di kampus saja, soalnya Hana sudah ada janji dengan pihak administrasi jurusan pagi ini." Jelas Hana.
Mama Rita mengangguk paham. "Baiklah. Kalau begitu bersiap-siaplah, Mama akan membungkusnya." Mama Rita pun berjalan menuju rak piring untuk mengambil kotak bekal.
Setelah berpamitan dengan Mamanya, Hana pun berangkat ke kampus menggunakan motor maticnya. Hari ini Hana cukup merasa lega melihat keadaan Mamanya yang semakin membaik. Hana terus melebarkan senyumannya hingga sampai di parkiran kampus.
Namun sayang, senyuman Hana terpaksa surut saat melihat sosok yang kini tengah berjalan ke arahnya menatapnya dengan tatapan penuh arti.
***
Lanjut lagi? Berikan vote, gift dan komennya dulu ya🌹