
Hana terlihat berdiam diri di dalam ruangannya sambil menatap sebuah foto yang baru saja ia ambil dari laci meja kerjanya. Foto kenangannya bersama Dika saat masih menjalin kasih yang sejak enam tahun belakangan selalu menjadi penyembuh luka di hatinya saat ia merasakan kerinduan yang teramat pada pria yang masih sangat dicintainya itu.
"Apa Dika marah jika aku pergi makan siang bersama Kak Arka?" Pertanyaan itu kembali muncul di benak Hana saat mengingat ekspresi wajah Dika saat berada di resto tadi. "Tapi aku tidak makan berdua saja bersama Kak Arka melainkan dengan Fitri juga." Hana mendesah-kan nafas bebas di udara.
Kepalanya segera menggeleng saat ia mengingat dengan jelas isi dari surat perjanjian pernikahan mereka. "Dia pasti tidak perduli. Lagi pula bukankah kami dilarang saling mencampuri urusan satu sama lain." Wajah pucat Hana berubah sendu. Sungguh jika mengingat isi selembar surat yang diberikan Dika membuat dadanya terasa sesak.
Hana kembali menyimpan foto kenangannya itu ke dalam laci meja kerjanya dan tak lupa menguncinya. Mendorong kursi kerjanya ke belakang lalu bangkit. Lima belas menit lagi sudah waktunya ia melakukan pemeriksaan pada pasiennya. Hana lekas mengambil alat-alat pemeriksaannya lalu keluar dari dalam ruangannya.
*
Pemikiran Hana tentang kemarahan Dika jika ia pergi makan bersama dengan Arka ternyata tak terbukti. Karena saat malam harinya ia bertemu dengan Dika di rumah mereka Dika tidak terlihat menunjukkan perubahan ekspresi selain wajahnya yang selalu dingin. Hana pun sudah hampir terbiasa dengan raut wajah suaminya itu.
Hana terus menatap punggung Dika hingga suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi. "Kenapa dia pulang selalu malam? Bukankah dia sudah bisa pulang waktu sore hari?" Pertanyaan itu terus bersarang di benak Hana. Kendati begitu, Hana tidak berani mempertanyakannya pada Dika alasan apa yang membuatnya selalu pulang di atas jam tujuh malam.
Cukup lama Hana berbalas pesan dengan Arka hingga ia tak menyadari jika sosok suaminya telah keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. "Kak Arka sungguh konyol!" Hana tertawa-tawa saat melihat isi pesan Arka yang membuat selera humornya naik.
Mendengar suara tawa Hana yang terdengar cukup pelan namun masih terdengar di telinganya, perhatian Dika pun teralihkan pada Hana. Lagi-lagi Hana menyebutkan nama Arka di sela tawanya. Kedua tangan Dika tanpa sadar sudah terkepal erat.
Apa dia berniat menduakanku untuk kedua kalinya! Dika menggeram dalam hati. Perlahan Dika melepas kepalan tangannya. Segera ia melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Tanpa rasa malu Dika memakai pakaiannya begitu saja di dekat lemari tanpa memperdulikan keberadaan Hana di dekatnya.
Menyadari Dika sudah keluar dari dalam kamar mandi, Hana segera menutup layar ponselnya. Ia berupaya menahan tawanya agar tidak keluar saat mengingat percakapan lucunya dengan Arka. Hana mengatur nafasnya lalu menatap pada Dika yang tengah berada di depan lemari. Sesaat kemudian Hana terbelalak saat melihat Dika dengan santainya memakai pakaian dalamnya di depannya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊