
"Di-dika." Liza tergagap.
"Aku tanya sekali lagi siapa yang mengatakan jika aku dan Hana hanyalah kekasih bohongan?" Tanya Dika sambil menatapa teman-temannya satu persatu dengan tajam.
Semua orang hanya diam. Ketegangan nampak terlihat jelas di wajah mereka saat melihat tatapan mematikan Dika.
"Katakan!" Bentak Dika.
"Liza yang mengatakannya." Jawab salah satu wanita yang cukup dekat dengan Hana dan Amel.
Dika mengalihkan pandangannya pada Liza. "Atas dasar apa kau mengatakannya?" Tanya Dika. Sebenarnya Dika sudah mengetahui siapakah yang mengatakan jika ia dan Hana hanyalah kekasih bohongan. Hanya saja Dika ingin mengetes kejujuran Liza.
"Aku mengatakannya karena aku memiliki bukti kuat. Saat aku berada di toilet waktu itu aku mendengar Hana dan Amel berkata jika kau dan dia hanyalah kekasih bo—" Ucapan Liza terputus saat Dika lebih dulu menyangkalnya.
"Tutup mulutmu. Hubungan aku dan Hana tidak seperti ya kau katakan!" Sentak Dika.
"Hana..." Amel yang sejak tadi terkejut dengan pengakuan Dika dibuat terkejut saat melihat tubuh Hana hampir saja tumbang jika ia tidak cepat menahannya.
"Hana!" Dika tak lagi memperdulikan Liza dan lebih memilih menghampiri Hana.
"Kepalaku sakit sekali." Lirih Hana di dalam pelukan Amel.
Melihat Hana yang kesakitan, Dika pun tanpa aba-aba langsung menggendong tubuh Hana.
"Kita bawa Hana pulang!" Ucap Dika pada Amel yang diangguki Amel dengan cepat.
Dika pun berjalan melewati teman-temannya yang nampak terkejut dengan sikapnya.
"Dika...!!" Liza menggeram. Menghentakkan kakinya ke lantai saat melihat Dika terlihat begitu mengkhawatirkan Hana. Liza benar-benar tidak menyangka jika Dika membela wanita yang jelas-jelas hanyalah kekasih palsunya dan ia yakin dengan pemikirannya itu.
"Turunkan aku. Lihatlah dosen pada melihat kita." Lirih Hana di dalam gendongan kita.
"Diamlah dan menurutlah. Jangan pikirkan mereka!" Titah Dika.
Hana tak lagi bersuara. Saat ini kepalanya benar-benar sakit dan pandangannya mulai buram.
Di belakang Dika, Amel nampak berjalan dengan terengah-engah karena mengikuti langkah Dika yang cukup lebar.
"Apa dia tidak bisa pelan-pelan!" Keluh Amel namun tetap mengikuti langkah Dika.
"Kenapa kau meletakkan Hana di kursi belakang?" Tanya Amel merasa bingung.
"Masuklah dan temani Hana!" Titah Dika tanpa menjawab pertanyaan Amel.
Amel mengangguk paham lalu memutari mobil Dika dan masuk ke dalamnya.
"Berbaringlah." Ucap Dika pada Hana.
Amel yang mengerti maksud Dika pun segera membantu Hana berbaring dan menjadikan pahanya sebagai bantal Hana.
Setelah memastikan Hana nyaman dalam pembaringannya, Dika pun masuk ke dalam mobilnya.
"Kau ingin membawa Hana kemana?" Tanya Amel saat melihat Dika melajukan mobilnya ke jalan yang bukan menuju rumah Hana.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Balas Dika.
"Aku tidak mau ke rumah sakit." Tolak Hana dengan lirih.
Dika tak menjawab ucapan Hana dan tak menerima penolakan dari Hana.
Mobil pun terus melaju hingga mereka telah sampai di rumah sakit.
"Aku tidak mau turun!" Tolak Hana saat Dika hendak menggendong tubuhnya.
Dika hanya diam namun tetap menggendong tubuh Hana.
"Aku tidak mau!" Hana memukul dada bidang Dika saat sudah berada di luar mobil.
"Diamlah atau aku akan menjatuhkan tubuhmu!" Ancam Dika dengan tatapan dinginnya.
***
Lanjut?
Mohon berikan dukungan untuk karya shy dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberi gift dalam bentuk poin🥰
Semakin banyak dukungannya, shy semakin semangat melanjutkan ceritanya ☺️