
"Kau ini bicara apa Fitri?" Hana menepuk pundak Fitri. "Saya baik-baik saja. Kau jangan berpikiran yang macam-macam apalagi menyangkutpautkan pada Dokter tadi." Tekan Hana.
"Apa anda ya—"
"Sudahlah. Saya harus segera pulang. Sampai bertemu besok pagi!" Menepuk pundak Fitri dua kali lalu berjalan meninggalkan Fitri yang masih terdiam di tempatnya.
"Aku yakin jika Dokter Hana sedang tidak baik-baik saja." Gumam Fitri.
Aku memang sedang tidak baik-baik saja, Fitri. Batin Hana sambil terus melangkah meninggalkan rumah sakit. Helaan nafasnya kian memberat saat bayangan Dika melintas di benaknya.
Saat sudah berada di parkiran mobil, Hana memperhatikan satu persatu mobil yang ada di sekitarnya. "Sepertinya Dika menggunakan mobil baru." Lirih Hana saat tak mendapatkan satu pun mobil yang mirip dengan beberapa mobil miliki Dika saat kuliah dulu. Tak ingin larut dalam pencahariannya, Hana pun memilih masuk ke dalam mobilnya untuk segera pulang ke rumahnya.
*
"Hana... kau sudah pulang?" Mama Rita melebarkan senyumannya melihat putrinya yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.
"Mamah..." Hana buru-buru melangkah mendekat pada Mama Rita lalu memeluknya barang sejenak. "Mama juga sudah pulang?" Tanya Hana setelah pelukannya terlepas.
"Ya. Mama sudah pulang dua jam yang lalu." Balas Mama Rita.
Kening Hana mengkerut. "Kenapa Mama pulang cepat sekali?" Tanya Hana.
"Ya, setelah menyerahkan surat pengunduran diri Mama ke perusahaan, pihak perusahaan meminta Mama untuk memikirkan keputusan Mama kembali dan menyuruh Mama untuk pulang lebih awal agar dapat berpikir." Mama Rita mengangkat kedua bahunya lalu tersenyum.
Hana dan Mama Rita pun masuk ke dalam rumah.
"Lalu apa keputusan Mama?" Tanya Hana setelah mendaratkan bokongnya di atas sofa.
Hana mengelus tangan Mama Rita yang ada di pundaknya. "Jika itu keputusan Mama makan Hana akan selalu mendukung Mama." Balas Hana.
Mama Rita tersenyum. "Maaf jika keputusan Mama akan membuatmu kesepian nantinya." Sesal Mama Rita. Karena tempat Mama Rita berjualan nantinya berada di luar kota dan tentu saja Hana akan berjauhan dengan Mama Rita.
"Tak masalah. Yang terpenting adalah kebahagiaan Mama. Hana hanya ingin Mama bahagia dengan ikhlas bukan dengan terpaksa. Lagi pula jika Hana tidak bekerja, Hana bisa mengunjungi Mama ke toko roti Mama."
"Terimakasih telah memprioritaskan Mama di dalam hidupmu, Hana. Tapi Mama minta setelah ini prioritaskanlah kebahagiaanmu sendiri karena saat ini Mama benar-benar sudah bahagia." Mama Rita membawa tubuh Hana ke dalam dekapannya.
"Hana akan mengusahakannya, Mama." Lirih Hana.
Bagaimana aku bisa memprioritaskan kebahagiaanku sedangkan kebahagiaanku itu telah lenyap saat aku memutuskan membuat pria yang menjadi sumber kebahagiaanku membenciku. Batin Hana merasa miris.
Mama Hana melerai pelukannya. "Kalau begitu istirahatlah lebih dulu. Mama akan mengangsur membereskan barang-barang kita."
"Tidak, Hana akan membantu Mama beres-beres. Lagi pula Hana sudah cukup istirahat di rumah sakit. Balas Hana berbohong.
"Apa kau yakin?" Tanya Mama Hana
Hana mengangguk mengiyakan.
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita beres-beres agar kau cepat pindah ke apartemen yang baru." Ajak Mama Rita yang diangguki oleh Hana.
***
Lanjut lagi? Berikan vote, like, komen dan giftnya dulu yuk🌹