
Walau begitu malas menuruti perkataan kedua sahabatnya yang tidak masuk akal, namun Dika tetap melakukannya agar drama kedua sahabatnya itu cepat selesai.
"Apa mereka mengerjaiku?" Geram Dika saat sudah berada di dalam kamar namun tidak melihat keberadaan siapa pun di sana. Kakinya pun melangkah semakin maju untuk mencari keberadaan siapa pun yang ada di dalam kamar.
Saat sudah berada dekat dengan ranjang, Dika tak kunjung melihat keberadaan siapa pun di sana. "Sialan! Mereka mengerjaiku!" Geram Dika dengan tangan terkepal. Dika pun membalikkan tubuhnya hendak keluar dari dalam kamar. Baru satu langkah kakinya berjalan, suara lembut memanggil namanya berhasil menghentikan langkahnya.
"Dika..."
Dika pun sontak membalikkan tubuhnya. "Hana?" Kedua mata Dika membola melihat Hana yang kini berdiri tak jauh darinya dengan memegang sebuah kue ulang tahun beserta lilin di atasnya.
"Dika..." Hana semakin melangkah maju dengan senyum merekah di bibirnya.
Dika terdiam di posisinya tanpa berkata hingga Hana kini sudah berada tepat di hadapannya.
"Selamat ulang tahun suamiku." Ucap Hana dengan lembut.
"Hana... kau..." Dika tertegun saat menyadari hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Aku tahu kau pasti melupakan hari ini adalah hari spesial untukmu." Hana tersenyum. Sudah menjadi kebiasaan Dika sejak dulu yang selalu melupakan hari ulang tahunnya setiap tahunnya. Hana pun mengangkat kue yang ada di tangannya. "Selamat ulang tahun suamiku." Ucap Hana lagi.
"Kau masih mengingatnya?" Tanya Dika dengan tatapan tak terbaca.
"Aku bahkan tidak pernah sedikit pun melupakan setiap hal penting dalam hidupmu." Ucap Hana masih tetap tersenyum.
"Hana..." Dika dibuat tak dapat berkata-kata. Hal ini sungguh mengejutkan baginya.
"Apa kau tidak ingin meniup lilinnya?" Tanya Hana.
Pandangan Dika sedikit turun pada kue yang ada di tangan Hana. Dika menutup kedua matanya sejenak lalu meniup lilin hingga mati sepenuhnya.
"Selamat ulang tahun, suamiku." Ucap Hana untuk kesekian kalinya.
"Terimakasih." Ucap Dika dengan singkat.
"Ayo duduk dulu." Ajak Hana menunjuk sebuah meja yang berada di sudut ruangan.
"Biar aku saja yang membawa kuenya." Ucap Dika sambil menahan tangan Hana.
Hana menurutinya lalu memberikan kue di tangannya pada Dika. Setelahnya mereka pun berjalan ke arah meja yang ditunjuk Hana.
Saat sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Hana, Dika kembali dibuat terkejut saat melihat ke arah ranjang yang yang ditaburi bunga bertuliskan i love you Dika. Pun dengan dinding kamar yang sudah menggantung tulisan selamat ulang tahun untuk dirinya beserta balon-balon yang melayang menghiasi dinding kamar.
"Kenapa kau melakukan ini semua?" Tanya Dika menatap dalam kedua bola mata Hana. "Kenapa kau masih bersedia merayakan ulang tahunku setelah delapan tahun kau melewatkannya?" Tanya Dika kemudian.
Senyuman di wajah Hana perlahan surut. "Aku melakukannya karena aku tidak ingin lagi melewatkannya." Balas Hana. "Aku tidak ingin lagi melewatkan hal penting dalam hidupmu. Aku tidak ingin lagi hidup dalam penyesalan yang tiada berujung." Lanjut Hana kemudian.
"Apa maksudmu? Menyesal? Apa kau menyesal telah menduakanku waktu itu?" Tanya Dika yang sudah paham arti ucapan Hana.
Hana tertunduk. "Bisakah kita membahas ini setelah kau memotong kue ulang tahunmu lebih dulu?" Tawar Hana.
"Sayangnya aku tidak ingin." Balas Dika dengan wajah yang sudah berubah dingin. "Aku akan melakukannya setelah kau menjawab pertanyaanku." Tekan Dika.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.