
"Aku juga tidak tahu. Sudahlah tidak perlu kau pikirkan. Jika dia berniat buruk padamu, kau tinggal menghajarnya bukan?" Tanya Amel.
Hana mengangguk. "Ayo keluar. Rasanya kepalaku sudah cukup sakit berada di salam kelas ini." Ajak Hana.
"Ayo. Lagi pula sebentar lagi kita akan masuk jam pelajaran kedua." Balas Amel.
Hana mengangguk lalu segera memasukkan bukunya ke dalam tas sandangnya.
"Hana... kau lihat itu? Liza sedang berbicara dengan Dika." Ucap Amel menunjuk pada Dika dan Liza yang nampak sedang berbicara di depan kelas kedua mereka.
Hana menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah kelas mereka.
"Sepertinya dia benar-benar tidak percaya pada apa yang aku ucapkan."
"Tentu saja dia tak percaya. Lagi pula kau itu nekad sekali menjadikan Dika sebagai tameng."
Hana mendengus. "Sudah aku katakan jika aku hanya refleks saja bukan?"
"Ya, ya. Jadi kita akan masuk ke kelas saja atau menunggu mereka masuk ke dalam kelas?" Tanya Amel.
"Kita tunggu saja mereka masuk." Balas Hana yang diangguki Amel.
*
"Jadi bagaimana Hana? Apa kau yakin akan datang di acara nanti malam?" Tanya Amel saat mereka melakukan percakapan via telefon pagi itu.
"Ya. Aku akan datang." Balas Hana dengan santai.
"Kau yakin akan datang? Bagaimana jika Liza mempermalukanmu nantinya? Beberapa hari ini saja dia selalu mencoba membongkar kebohonganmu." Ucap Amel meragu dengan keyakinan Hana.
"Sudahlah tidak perlu kau pikirkan. Jika dia berniat buruk kepadaku tak masalah. Aku punya seribu cara untuk membalasnya." Ucap Hana menenangkan kekhawatiran Amel.
"Tapi bagaimana teman-teman kita akan curiga karena kau datang tidak bersama Dika?" tanya Amel.
"Huh, baiklah jika itu keputusanmu. Aku hanya berharap Liza tidak berniat buruk kepadamu."
"Apa nanti malam kau jadi menjemputku?" Tanya Hana mengalihkan pembicaraan mereka.
Di seberang sana Amel nampak mengangguk meski Hana tak dapat melihat pergerakannya. "Aku akan menjemputmu dan pulang dari rumah Liza kau akan menemaniku tidur di rumahku." Balas Amel.
"Baiklah. Kalau begitu aku tutup dulu telefonnya karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum aku kerjakan." Ucap Hana.
"Sampai jumpa nanti malam, Hana." Ucap Amel mengakhiri percakapan mereka.
"Amel... Amel... seharusnya yang kau takutkan itu adalah Dika. Karena beberapa hari ini dia selalu berusaha mencekikku dengan tatapan dinginnya itu. Apa lagi akhir-akhir ini banyak teman-teman kita yang sudah percaya jika aku dan Dika memiliki hubungan khusus." Gerutu Hana menatap layar ponselnya yang sudah mati.
*
Malam hari pun tiba. Malam ini Hana sudah nampak cantik dengan kemeja bewarna biru wardah yang dimasukkan ke dalam celana jeans bewarna navy yang terlihat melekat sempurna di tubuhnya. Jepitan bewarna putih yang melekat di sisi kanan rambutnya pun menambah kecantikan Hana malam itu.
"Sederhana begini saja kau sudah nampak cantik, Hana." Lidah Amel berdecak menatap kagum pada kecantikan natural sahabatnya.
"Kau bisa saja. Kau juga cantik walau lebih cantikan aku." Seloroh Hana.
Amel mendengus. "Sudahlah. Lebih baik kita segera masuk." Ajak Amel yang diangguki oleh Hana.
Hana dan Amel pun masuk ke dalam rumah Liza. Seorang pelayan pun mulai mengarahkan Hana dan Amel menuju halaman samping dimana tempat acara angkatan mereka dilakukan.
Melihat kedatangan Hana dan Amel, sontak teman-teman mereka yang sudah datang pun mengalihkan pandangan ke arah mereka termasuk seorang pria yang sejak tadi menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.
"Hana, kau lihat itu? Dika memakai baju bewarna sama dengan warna celana yang kau kenakan." Bisik Amel di telinga Hana.
***
Lanjut? Berikan vote, gift, komen dan likenya dulu yuk 🌹