Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Gara-gara es krim


"Kau ini sungguh kebiasaan sekali." Ucap Dika lalu tanpa sadar mengacak rambut Hana.


Gerry menganga. Melihat sikap Dika yang tidak seperti biasanya mau menyentuh wanita di tempat umum untuk pertama kalinya.


"Aku tidak menyangka sahabatku sebucin ini sekarang." Cibir Gerry.


Dika melirik Gerry tajam. Sedangkan Hana memasang wajah malu-malu.


"Kau dengar itu Hana, kalian itu pasangan bucin." Ucap Amel turut mencibir.


Hana menatap Amel dengan tersenyum. "Benarkah begitu? Agh, aku jadi malu." Balasnya.


Amel menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan perubahan Hana.


"Apa kau ingin ikut aku dan Gerry berlari?" Tawar Dika.


Hana dengan cepat mengangguk. "Ayo!" Ajaknya tanpa malu memegang tangan Dika.


Dika tersenyum tipis lalu mengangguk. Hana dan Dika pun berlari lebih dulu meninggalkan Amel dan Gerry.


"Kau lihat itu, temanmu sudah berhasil membuat dinding es sahabatku mencair." Ucap Gerry pada Amel.


Amel tersenyum. "Ya. Hana memang hebat. Mereka pasangan yang saling melengkapi. Hana yang ceria dan Dika yang dingin."


Gerry turut tersenyum. Mereka pun kemudian ikut berlari mengikuti Dika dan Hana yang sudah berlari jauh meninggalkan mereka.


Setelah lelah berlari mengelilingi taman, Dika, Gerry, Hana dan Amel pun memilih istirahat di sebuah kursi yang berada tidak jauh dengan orang berjualan.


"Dika, aku ingin es krim itu!" Tunjuk Hana pada gerobak es krim tak jauh dari mereka.


Dika mengikuti arah pandangan Hana. "Kau mau makan es krim pagi-pagi begini?" Tanya Dika.


Hana mengangguk. "Aku sangat menginginkannya." Ucap Hana tanpa mengalihkan pandangan pada gerobak es krim yang begitu menggoda seleranya.


"Apa kau tidak takut sakit perut?" Tanya Dika lagi.


Hana menggeleng. "Aku sangat menginginkannya!" Balas Hana lalu berdiri. "Yah... kenapa bapak itu pergi." Melihat penjual es krim mulai mendorong gerobaknya, Hana pun berlari mengejarnya.


"Hana..." Dika turut berdiri lalu mengejar langkah Hana.


"Hana..." pekik Amel lalu turut berdiri. "Anak itu memang tidak bisa menahan seleranya dengan es krim!" Gumam Amel tak habis pikir.


Saat sudah hampir dekat dengan gerobak es krim yang ia kejar, Hana tak sadar tersandung batu yang cukup besar.


"Aw..." Hana terjatuh.


"Hana..." Dika berlari mendekat ke arah Hana.


"Kakiku sakit..." rintih Hana memegang kakinya.


"Astaga Hana..." melihat Hana terjatuh Amel pun berlari ke arah Hana.


"Hana..." Dika berjongkok. "Apa yang sakit?" Tanya Dika.


"Aw... Kakiku sakit sekali..." rintih Hana saat Dika tanpa sadar memegang kakinya cukup kuat. Hana pun mengangkat celananya hingga memperlihatkan kakinya yang nampak memerah.


"Apa kau bisa berdiri?" Tanya Dika.


Hana menggeleng dengan wajah kesakitan.


"Astaga, kakimu kenapa Hana?" Pekik Amel saat sudah berada di dekat Hana.


"Sepertinya kakiku keseleo." Balas Hana.


"Hana... Hana... kenapa kau ceroboh sekali sampai terjatuh." Ucap Amel.


"Aku tidak ceroboh. Aku hanya tidak melihat batu itu menghalangi jalanku." Balas Hana tak ingin disalahkan. Hana pun mencoba untuk berjalan namun tak bisa.


"Ayo naik ke punggungku." Ucap Dika melihat Hana kesulitan untuk berjalan.


"Apa kau yakin?" Tanya Hana memperhatikan sekitar mereka yang cukup ramai.


"Cepatlah naik. Kakimu harus segera diobati!" Titah Dika.


"Hana, naiklah." Ucap Amel menyetujui ucapan Dika.


Hana mengangguk lalu naik ke punggung Dika.


"Pegangan yang erat atau kau akan terjatuh." Ucap Dika sebelum melangkah.


Hana mengangguk lalu mengeratkan pegangannya di leher Dika.


***


Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰