
"Hallo, Nona..." Sapanya memegang pundak wanita itu.
Wanita itu nampak kaget. "Eh... Dokter..." Ucapnya sambil menghapus air mata di sudut matanya. "Duduk dulu, Dokter." Memberi ruang untuk Dokter Hana duduk.
"Kita sering bertemu sebelumnya. Namun tidak sempat berkenalan." Hana mengulurkan tangannya.
"Hana."
"Kyara."
"Kenapa anda menangis, Nona Kyara?" Tanya Hana menatap wajah sembab Kyara.
"Apa begitu terlihat?" Tanya Kyara dengan polosnya.
"Tentu saja. Wajah anda nampak sembab dan tubuh anda juga bergetar." Jelas Dokter Hana.
Apa wanita ini menangisi Dika? Hana masih saja berpikir jika Kyara adalah kekasih mantan kekasihnya mengingat Dika begitu perhatian pada wanita di depannya saat ini.
"Sepertinya anda sudah terlalu lama menangis." Lanjut Hana kemudian.
Kyara nampak menghela nafas panjang. "Aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku tidak menangis." Kyara menyematkan senyum tipis di akhir ucapannya.
Hana memiringkan sedikit tubuhnya menghadap pada Kyara. "Hah, yang benar saja?" Ucapnya tak percaya.
Kyara mengangguk meyakinkan.
"Kau bisa bercerita kepadaku jika hatimu sudah tak kuat menahannya seorang diri." Ucapnya sedikit merasa iba.
Hembusan nafas Kyara terbuang bebas di udara. "Apa kau tahu, jika satu bulan lebih ini aku lewatkan dengan menangis sepanjang hari." Lirih Kyara dengan kepala tertunduk.
"Apa yang menyebabkanmu seperti itu? Apa karna kekasihmu?" Tebak Hana.
Kyara seketika menggeleng. "Suamiku."
"Su-suami?" Kepala Dokter Hana menggeleng.
Apa suaminya adalah Dika? Bukankah kata Winda waktu itu Dika masih single. Lanjut Hana dalam hati.
Jadi suami Kyara bukan Dika? Batin Hana karena saat ini kondisi Dika dalam keadaan sehat.
"Bagaimana itu semua bisa terjadi?" Hana nampak penasaran dengan kejadian yang menimpa teman barunya saat ini.
Kyara pun mulai menceritakan awal mula kejadian yang menimpanya dan suaminya. Air mata Kyara kembali mengalir mengingat pengorbanan Gerry yang saat itu berkorban untuk menyelamatkan nyawanya.
"Astaga..." Hana menutup mulut dengan kedua tangannya. Akhirnya pertanyaan yang ada di dalam benaknya terjawab sudah. Mengapa Kyara nampak sering datang ke rumah sakit pagi, siang dan sore hari.
"Ternyata Dokter Dika adalah sahabat suamimu?" Tanya Hana saat Kyara menceritakan siapa Dika di keluarganya.
Kyara mengangguk. "Aku juga baru mengenalnya setelah operasi suamiku."
"Ohh... Seperti itu..."
"Oh iya, Dokter Hana—" Ucapan Kyara terputus karena Dokter Hana dengan cepat menyelanya.
"Kau bisa memanggilku dengan sebutan Hana saja. Bukankah mulai saat ini kita adalah teman?" Ucap Dokter Hana.
"Baiklah, Hana..." Ucap Kyara tersenyum. Ia sungguh bersyukur dipertemukan dengan Dokter sebaik Dokter Hana yang mau mendengar keluh kesahnya selain Rania seperti saat ini.
"Ya, jadi kau ingin berbicara apa tadi?"
"Aku harus kembali ke dalam ruangan suamiku. Karena Mama dan Papa mertuaku sepertinya sudah mau pulang." Ucap Kyara.
"Baiklah... Semoga suamimu cepat sadar. Dan kau bisa mengunjungiku ke dalam ruanganku jika kau membutuhkan teman cerita." Tawar Hana.
Kyara mengangguk. "Terimakasih. Aku pergi dulu." Kyara pun bangkit. Mereka pun melakukan perpisahan dengan berpelukan barang sejenak.
"Dia wanita yang manis..." Gumam Hana menatap punggung Kyara.
"Sebaiknya aku cepat menghabiskan cemilan ini sebelum waktu istirahatku habis!" Ucap Hana kemudian membuka bungkus plastik cemilannya.
***
Lanjut? Komen, vote dan giftnya dulu yuk🌹