
"Tapi Hana—" ucapan Amel terputus sebab Hana langsung memotongnya.
"Sudahlah. Lebih baik kita keluar. Tidak etis sekali kita melakukan sesi curhat di kamar mandi." Seloroh Hana.
Amel mendengus. Di kodisi serius seperti ini Hana tetap saja mengajaknya bercanda.
"Ayo keluar!" Hana menarik tangan Amel keluar dari dalam kamar mandi.
"Kau ini..." Amel hanya bisa menggeleng dengan sikap sahabatnya.
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Hana dan Amel memutuskan untuk tidak masuk ke dalam kelas dan lebih memilih duduk di taman tempat biasa mereka bercerita jika ada waktu senggang.
"Hana, apa kau benar-benar ingin mengakhiri sandiwara yang kau buat?" Tanya Amel setelah mendengar Hana ingin mengakhiri sandiwaranya.
Hana mengangguk. "Lagi pula sekarang Kak Hans sudah tidak lagi menggangguku. Dan aku juga tidak ingin kulkas dua belas pintu itu semakin terusik dengan status pura-pura yang aku buat. Apa lagi saat ini seangkatan kita pasti heboh setelah mendengar ucapan Liza tadi."
"Apa kau yakin? Bagaimana setelah ini kau akan memasuki kembali masa dimana hidupmu terganggu dengan banyaknya pria yang mencoba mendekatimu."
Hana mengangkat kedua bahunya acuh. "Aku tak lagi memperdulikannya. Aku tinggal memblokir setiap kontak yang mengganggu dan menjalani hidup normal seperti biasanya."
Amel menepuk pundak Hana dua kali. "Aku percaya kau sudah mengambil keputusan yang tepat."
Hana mengangguk seraya tersenyum. "Aku..." ucapnya membusungkan dada ke depan.
Amel mendengus lalu tertawa. "Jadi kapan kau akan mengatakan jika hubungan kau dan Dika sudah berakhir?" Tanya Amel.
"Mungkin beberapa minggu lagi. Bukannya tidak mau mempercepat. Hanya saja aku ingin memberikan waktu pada dedemit itu merasa menang di atas penderitaanku karena dekat dengan Dika padahal tidak demikian." Hana tertawa hambar.
Amel memeluk pundah Hana dengan lengannya. "Lagi pula bagaimana kau bisa cemburu sedangkan Dika sesungguhnya bukanlah kekasihmu." Seloroh Amel.
Kali ini Hana yang mendengus. Memukul pelan lengan Amel yang masih bertengger di pundaknya. "Kau mengejekku, ya!" Rutuknya yang dibalas Amel dengan tertawa.
*
"Huh sial sekali! Aku lupa memasukkan mantelnya!" Gerutu Hana mengingat jika mantelnya belum sempat ia masukkan kembali ke dalam jok motor setelah di jemur kemarin. "Sudahlah, lebih baik aku lanjut jalan saja. Lagi pula hujannya belum tentu akan reda sebentar lagi." Ucap Hana lalu kembali menaiki motornya tanpa memperdulikan jika hujan semakin deras membasahi tubuhnya.
Tin
Tin
Suara klakson mobil yang melaju di belakang motornya membuat Hana yang sedang fokus pada jalanan terkejut. Hana pun refleks memutar kepalanya untuk melihat siapakah yang mengklaksonnya sedangkan kondisi jalan sedang sepi sebab para pengendara motor banyak yang berhenti di sepanjang ruko yang dilewatinya.
Mengetahui siapakah pemilik mobil di belakangnya, Hana pun menambah kecepatan motornya. "Untuk apa dia mengikutiku!" Gerutu Hana dengan bibir yang mulai bergetar.
Cittt
Hana terpaksa mengerem mendadak motornya sebab mobil yang mengikutinya kini berhenti di depannya.
Pintu mobil pun terbuka, Dika nampak keluar dari dalam mobilnya sambil memegang payung di tangannya.
"Kenapa kau tidak berhenti untuk berteduh? Apa kau tidak melihat hujannya cukup deras!" Cecar Dika saat sudah berada di depan Hana lalu memayungkan tubuh Hana yang basah dengan payung di tangannya.
***
Lanjut?
Mohon berikan dukungan untuk karya shy dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberi gift dalam bentuk poin🥰
Semakin banyak dukungannya, shy semakin semangat melanjutkan ceritanya. Hehe☺️