Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Apa dia menjemputku?


"Apa Dika akan menjemputku pulang sore ini? Kemarin dia hanya berkata akan terus mengantarkanku tapi tidak mengatakan menjemputku juga." Gumam Hana menatap ke arah gerbang rumah sakit sore itu.


Setelah lima belas menit menunggu kemungkinan Dika akan menjemputnya namun tidak kunjung melihat tanda-tanda Dika akan datang, akhirnya Hana memilih berjalan ke arah gerbang untuk mencari taksi.


Seraya berjalan ke arah gerbang, Hana menyempatkan membuka ponselnya untuk melihat apakah ada pesan masuk dari Dika atau tidak. "Dia tidak ada mengirimkan pesan apa pun. Sepertinya dia tidak akan menjemputku." Hana mendesah-kan nafas kasar di udara. Entah mengapa tubuhnya terasa tidak bersemangat ketika memikirkan Dika yang tidak datang menjemputnya.


Kaki jenjangnya terus melangkah hingga akhirnya sampai di gerbang rumah sakit. Hana berhenti sejenak di pos security untuk memberi sapaan pada dua orang security yang berada di sana lalu kembali melangkah keluar dari gerbang.


Tin


Suara klakson mobil yang terdengar cukup keras membuat Hana terkejut lalu mengelus dadanya. "Dika?" Ucap Hana menatap mobil yang kini sudah terparkir tepat di hadapannya.


Kaca mobil pun terbuka hingga Hana dapat melihat Dika yang kini berada di dalam mobil. "Cepat masuk!" Titah Dika dengan wajah datarnya.


Hana mengangguk lalu segera masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan tatapan beberapa orang yang tengah memperhatikannya.


"Kau datang menjemputku?" Tanya Hana saat sudah duduk di dalam mobil.


"Lalu untuk apa aku datang jika tidak untuk menjemputmu?" Balas Dika.


Bukannya kesal mendengar jawaban dari Dika, Hana justru tersenyum senang karena apa yang dipikirkannya tidak terjadi. Ada rasa hangat yang kini memenuhi relung hatinya karena Dika datang untuk menjemputnya.


"Terimakasih. Aku pikir kau tidak akan menjemputku." Ucap Hana kemudian.


"Bukankah sudah aku katakan jika aku akan mengantarkanmu pergi bekerja mulai hari ini? Itu berarti aku juga akan menjemputmu pulang." Balas Dika.


"Ya. Tapi kau tidak mengatakan juga akan menjemputku." Hana mengeluarkan isi pemikirannya.


Dika mendengus. "Bila aku tidak menjemputmu jika ada pekerjaan genting yang harus aku kerjakan. Lagi pula jika aku tidak bisa, aku akan menyuruh asistenku untuk menjemputmu." Terang Dika.


Hana semakin melebarkan senyumannya. "Terimakasih, Dika. Kau sungguh baik sekali kepadaku." Ucap Hana sambil menatap wajah Dika dengan tersenyum.


Dika sejenak menatap wajah Hana yang kini tengah tersenyum kepadanya lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


"Loh, Dika. Kenapa kita pulang lewat sini?" Tanya Hana saat Dika membelokkan mobilnya ke arah yang berbeda dari jalan menuju rumah mertuanya.


"Kita akan menginap di rumah Gerry malam ini." Balas Dika dengan singkat.


"Apa? Menginap di rumah Gerry? Kenapa mendadak sekali? Dan kenapa Kyara tidak memberitahuku?" Tanya Hana.


"Jangan banyak bertanya dan ikuti saja." Ucap Dika yang merasa malas menjawab pertanyaan Hana.


"Tapi aku tidak membawa baju gantiku, Dika." Ucap Hana kemudian.


"Siapa bilang? Baju gantimu sudah ada di kursi belakang." Balas Dika.


Hana sontak menolehkan wajahnya ke belakang. Dapat ia lihat di atas kursi penumpang terdapat sebuah paper bag berukuraan cukup besar.


"Apa kau yang mengambil baju gantiku di dalam lemari?" Tanya Hana.


Dika mengangguk sebagai jawaban.


"Dan apa kau juga mengambil pakaian dalamku di dalam lemari?" Tanya Hana lagi.


Dika kembali mengangguk sebagai jawaban.


"A-apa?" Hana tergagap saat membayangkan bagaimana Dika mengambil pakaian dalamnya di dalam lemari dengan ekspresi datarnya.


***


Lanjut? berikan vote, like dan komennya dulu yuk☺️


Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_ untuk mengetahui informasi update☺️