Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Mengganggu pemikiranku


"Apa benar begitu?" Tanya Hana meragu.


"Tentu saja benar. Jika kau ingin memastikan ucapanku, coba saja kau ingat-ingat kembali perhatian Dika padamu tadi yang tidak masuk di akal jika dilakukan pada wanita yang hanya ia anggap sebagai temannya sendiri." Ucap Amel.


Hana terdiam. Jika dipikir-pikir memang perlakuan dan perhatian Dika tidak pantas dikatakan hanya sebagai perlakuan pada teman biasa. Apa lagi Dika tak segan-segan menggendongnya tadi.


"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan jawabannya bukan?" Tanya Amel yang diangguki Hana sebagai jawaban.


"Jika kau sudah mendapatkan jawabannya, kau tinggal menunggu Dika untuk mengatakan cintanya padamu saja."


"Itu tidak mungkin." Pungkas Hana.


"Kau lihat saja nanti." Ucap Amel penuh percaya diri.


"Sudahlah. Lebih baik kau keluar dan temani Dika. Kepalaku sangat sakit dan aku ingin tidur." Ucap Hana.


"Ya, ya. Aku akan keluar dan kembali ke kampus untuk mengambil motorku dan motormu. Apa kau tak apa aku tinggal sendiri dulu?" Tanya Amel.


"Tak apa. Lagi pula kedua orang tuaku akan pulang dari rumah Nenekku sebentar lagi." Balas Hana.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali secepatnya setelah mengambil motorku." Ucap Amel yang diangguki oleh Hana.


*


"Dika, ayo kembali ke kampus." Ajak Amel saat sudah berada di ruang tamu.


Dika mengangkat kepalanya. Menatap Amel dengan tatapan bingung. "Kau ingin meninggalkan Hana sendiri?" Tanya Dika.


"Hana tidak sendiri. Sebentar lagi kedua orang tuanya akan pulang dan akan menemaninya." Jelas Amel.


"Apa dia sudah makan dan meminum obatnya?" Tanya Dika.


"Sudah. Sekarang Hana sedang istirahat. Setelah mengambil motorku di kampus, aku akan kembali lagi ke sini." Ucap Amel.


Dika mengangguk paham lalu bangkit dari duduknya. Dika pun berjalan lebih dulu meninggalkan Amel yang nampak tersenyum lebar saat melihat dengan jelas kecemasan di wajah Dika untuk sahabatnya.


*


"Bagaimana keadaan wanita itu hari ini?" Ucap Dika sambil menatap gelapnya malam dari balkon apartemennya. Bayangan wajah Hana yang selalu menatapnya dengan sebal tiba-tiba terlintas di benaknya. Tanpa sadar Dika menarik tipis kedua sudut bibirnya.


"Dia benar-benar mengganggu pemikiranku." Lirihnya kemudian.


Malam semakin larut, Dika memutuskan masuk ke dalam apartemennya saat dinginnya udara malam mulai menusuk ke dalam pori-pori kulitnya.


*


Pagi itu, kedatangan sosok yang selalu mengganggu pemikirannya beberapa hari belakangan ini membuat jantung Dika berdetak begitu cepat. Dika menatap wajah Hana yang sudah nampak segar dan senyum terkembang di wajah Hana dengan tatapan datar.


Hana terus berjalan hingga melewati tempat duduk Dika. "Selamat pagi, Dika." Sapa Hana dengan tersenyum tipis.


Dika tak membalas sapaan Hana. Namun matanya kini menatap intens wajah cantik Hana yang belum terpoles make up. Melihat Dika yang hanya diam saja, Hana pun berniat melanjutkan langkahnya.


"Kau sudah sehat?" Tanya Dika yang berhasil menghentikan niat Hana.


Hana menolehkan wajahnya kembali pada Dika. "Ya. Aku sudah cukup sehat." Balasnya


"Syukurlah." Balas Dika.


"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas bantuanmu waktu itu." Ucap Hana dengan tulus.


Dika mengangguk sebagai jawaban.


Hana pun kembali melanjutkan langkahnya. Baru saja ia menjatuhkan bokongnya di atas kursi, sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya membuat kening Hana mengekerut.


"Dika?" gumam Hana membaca nama pengirim pesan. Hana menatap ke depan dimana Dika saat ini tengah memainkan ponselnya.


Temui aku di mobil siang nanti. \~ Dika


"Kenapa dia menyuruhku menemuinya?" Gumam Hana merasa bingung.


***


Lanjut?