Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tak kalah menyebalkan


Hana terdiam. Ia pun berusaha mengingat-ingat kejadian tadi malam hingga akhirnya membuatnya tertidur di dalam dekapan Dika. "A-aku..." Hana tergagap. Tubuhnya merasa gugup saat mengingat dengan jelas betapa hangatnya pelukan Dika tadi malam yang sudah lama sangat dirindukannya.


Tidak mendapatkan respon dengan benar dari Hana membuat Dika segera turun dari ranjang.


"Kau ingin kemana?" Tanya Hana.


"Apa kau tidak lihat sudah jam berapa saat ini?" Dika kembali bertanya tanpa menjawab ucapan Hana.


Hana mengarahkan pandangan pada jama dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit. "Astaga... sudah waktunya mandi." Gumam Hana. Ia pun buru-buru bangkit dari ranjang. "Sebaiknya aku menyiapkan pakaianku lebih dulu sambil menunggu Dika mandi." Ucapnya lalu mengeluarkan kembali pakaiannya yang sudah ia masukkan ke dalam koper tadi malam.


Lima belas menit menunggu akhirnya Dika keluar dari dalam kamar mandi. Untung saja Dika tidak sama sepertinya yang menghabiskan waktu cukup lama di dalam kamar mandi. Hana buru-buru melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dengan membawa handuk dan pakaian ganti di tangannya.


"Aku haru mandi dengan cepat atau aku akan terlambat." Gumamnya saat sudah masuk ke dalam kamar mandi.


*


"Jangan lagi bersikap ceroboh seperti kemarin. Apa kau tahu Mama sangat mengkhawatirkan keberadaanmu." Ucap Dika dengan wajah dinginnya saat mereka sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Hana menolehkan wajahnya ke arah samping. "Maaf. Selain lupa mengabari Mama. Ponselku juga kehabisan daya." Jelas Hana.


"Hilangkan sikap cerobohmu. Apa kau tidak sadar kecerobohanmu membuatmu dan orang lain kesusahan?" Cetus Dika.


Hana mengangguk saja. Ia sadar atas kesalahannya. Lagi pula melawan Dika pun tak ada gunanya.


"Dan untuk tiket yang diberikan Gerry dan Kyara, kita akan berangkat dua minggu lagi." Ucap Dika kemudian.


"Dua minggu lagi?" Ucap Hana mengulang ucapan Dika.


"Satu minggu ke depan aku ada pekerjaan di luar kota hingga kita baru bisa berangkat dua minggu lagi." Terang Dika.


Dika tak lagi menanggapi ucapan Hana dan memilih fokus pada kemudinya.


*


Kepulangan Hana ke rumah orang tua Dika sore itu disambut dengan pelukan hangat dari Mama Puspa yang sejak tadi menunggunya pulang.


"Hana... apa kau baik-baik saja?" Mama Puspa memperhatikan penampilan menantunya dari atas sampai bawah.


Hana menganggukkan kepalanya. "Hana baik-baik saja, Ma. Maaf sudah membuat Mama khawatir." Wajah Hana nampak bersalah mengingat banyaknya pesan yang dikirim Mama Puspa menanyakan keberadaannya sore kemarin.


Mama Puspa tersenyum lega. "Syukurlah... Mama sangat mengkhawatirkanmu. Dan untung saja Dika dapat menemukan keberadaanmu tadi malam."


"Sekali lagi maafkan Hana, Ma." Ucap Hana lagi.


"Tidak apa-apa... Mama tahu ponselmu kehabisan daya dan lampu di rumahmu dan Dika mati hingga kau tidak bisa mengisi daya ponselmu." Mama Puspa mengelus lengan Hana.


Hana tersenyum. Ia merasa beruntung mendapatkan mertua sebaik Mama Puspa yang ternyata tidak seperti yang ada di dalam pemikirannya saat ini.


"Hana, kau sudah pulang?" Mendengar suara yang menyebalkan di telinganya membuat Hana menatap malas pada Liza yang kini tengah menatapnya dengan tatapan pura-pura cemas.


"Ya, aku sudah pulang. Apa kau mengkhawatirkan aku?" Hana pun membalas ucapan Liza dengan suara tak kalah menyebalkan.


***


Next?