Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pria tidak normal


"Ah sudahlah. Lebih baik aku mencari pakaian yang bisa menutupi bentuk bagian dalam tubuhku!" Ucapnya lalu kembali melangkah menuju kamar tamu.


"Kenapa kau suka sekali berteriak?" Tanya Dika yang baru saja keluar dari dalam kamarnya pada Hana yang hendak masuk ke kamar tamu.


"A-aku..." Hana tergagap lalu menutupi bagian dadanya.


Melihat tingkah Hana, Dika pun menatap pada tangan Hana yang saat ini menutupi dadanya.


Wajah Hana mulai memerah melihat Dika yang kini menatap tanpa berkedip pada dadanya yang tertutup.


"Kulkas mesum!" Pekiknya lalu masuk ke dalam kamar tamu dan menutup pintunya dengan keras.


Brak


Dika mengelus dadanya. Merasa terkejut karena ulah Hana. "Dia benar-benar gila!" Umpat Dika lalu berjalan ke arah sofa ruang tamu dan mengambil ponselnya. Mendengar notifikasi pesan masuk, Dika segera menghidupkan layar ponselnya.


"Gerry ingin datang ke sini?" Gumam Dika saat melihat pesan masuk di ponselnya. Dika pun mengarahkan pandangan pada pintu kamar tamu yang masih tertutup. "Akan bahaya jika Gerry datang di saat wanita itu masih berada di sini." Gumamnya lagi. Tak ingin menambah masalah dengan kedatangan Gerry nantinya, Dika pun mengirimkan pesan pada Gerry jika ia tidak bisa ditemui hari ini.


Di dalam kamar, Hana menatap pantulan tubuhnya di cermin. "Apa dia bukan pria normal hingga tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat melihat bagian tubuhku?" Hana merasa bingung apa lagi saat mengingat Dika hanya menatapnya tanpa berkedip dan tidak menunjukkan reaksi apa-apa. "Dia tidak mesum. Memang pandangannya setiap hari seperti itu." Hana meralat ucapannya pada Dika tadi.


Setelah melihat bagian tubuhnya tak lagi terlihat karena saat ini ia memakai jaket yang didapat dari dalam lemari, Hana pun keluar dari dalam kamar.


"Bolehkah aku meminjam ponselmu?" Ucap Hana saat sudah berada di dekat Dika yang kini sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Untuk apa?" Tanya Dika dengan datar tanpa memperdulikan penampilan Hana saat ini.


"Aku tidak menemukan ponselku di dalam kamar. Sepertinya ponselku masih ada di dalam tas Amel. Aku ingin menghubungi Amel untuk menjemputku ke sini." Jelas Hana.


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Hana namun Dika tak lagi menghiraukannya.


Pria terkutuk. Umpat batin Hana melihat tingkah Dika.


Merasa semakin kesal karena Dika tak berniat mengajaknya berbicara, Hana pun menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan Dika.


"Apartemen ini milikmu?" Tanya Hana memperhatikan apartemen Dika yang cukup mewah jika hanya ditempati seorang diri.


Dika diam. Pria itu nampak sangat fokus pada ponsel di tangannya.


Apa menurutnya suaraku ini hanya angin lalu! Hana kembali mengumpat dalam hati.


"Selain tidak normal ternyata kau juga tidak bisa mendengar ya Dika." Ucap Hana dengan nada menyindir.


Rasakan kau! Hana kembali membatin saat Dika mengangkat wajahnya.


"Kau berkata apa?" Tanya Dika menatap Hana dengan tajam.


"Kau pria tidak normal dan kau tidak dapat mendengar." Ucap Hana dengan sinis.


Dika bangkit dari duduknya. "Atas dasar apa kau mengataiku seperti itu?" Tanyanya sambil mendekat ke arah Hana. Emosinya yang sudah hampir di ubun-ubun karena kini berita tentang hubungan palsunya dan Hana sudah tersebar ke mana-mana semakin bertambah dengan celotehan Hana.


"A-aku..." Hana memundurkan tubuhnya merasa takut melihat tatapan Dika yang sudah sangat dekat dengannya.


*