Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Kehilangan


Ucapan yang keluar dari mulut Dika beberapa menit yang lalu mampu meruntuhkan pertahanan isakan tangis Mama Rita yang sejak tadi ia tahan.


"Kak Rauf..." Mama Rita menangis tersedu-sedu di ambang pintu menatap seluruh tubuh mantan suaminya yang kini sudah tertutup kain. Di samping tubuh Papa Rauf terlihat istri dan anak tirinya menangis dan meraung memanggil-manggil nama Papa Rauf dan meminta Papa Rauf kembali hidup.


"Pergilah dengan tenang Kak Rauf..." ucap Mama Rita dengan lirih lalu menutup mulutnya agar isakan tangisannya tidak terdengar.


"Mama..." tepukan lembut di bahunya oleh Dika membuat Mama Rita menatap ke arah belakang.


"Menangislah jika Mama tidak sanggup menahannya." Ucap Dika yang seolah mengerti isi hati Mama Rita saat ini.


"Di-dika..." Mama Rita menutup wajahnya lalu menangis terisak-isak.


Menyadari kondisi mertuanya yang sedang hancur melihat papa mertuanya yang telah berpulang membuat Dika berinisiarif membawa Mama Rita menjauh dari ruangan ICU.


"Ma-mama tidak pernah menyangka jika akhirnya akan seperti ini." Ucap Mama Rita disela tangisannya.


"Kita tidak pernah tahu takdir apa yang lebih dulu menjemput kita, Mama." Ucap Dika.


Mama Rita mengangkat kepalanya. Menatap wajah menantunya dengan berderai air mata. "Jika dulu Mama merasakan sakit karena Mama dan Papa berpisah karena adanya wanita lain, tapi sekarang rasanya lebih menyakitkan karena Mama harus melihat perpisahan terakhir kami oleh kematian." Ucap Mama Rita lalu kembali menangis tersedu-sedu.


Dika hanya bisa mengelus pundak Mama Rita berupaya untuk menenangkannya. Dika cukup paham jika Mama Rita sampai saat ini masih menaruh perasaannya pada Papa Rauf yang tidak pernah berganti menjadi pemilik hatinya sejak dulu. Walau sudah berhasil mengikhlaskan Papa Rauf pergi dari hidupnya dan menjalani hidupnya dengan wanita pilihannya yang lain, namun Mama Rita tidak pernah berhasil menghilangkan nama Papa Rauf dari hatinya.


"Ikhlaskanlah kepergian Papa, Ma..." ucap Dika.


Mama Rita mengangguk. "Mama mengikhlaskannya tapi ini sungguh menyakitkan, Dika." Ucap Mama Rita dengan tersedu-sedu.


Dika pun memilih diam dan membiarkan Mama Rita melepaskan rasa sesak di dadanya. Setelah beberapa menit berlalu dan Mama Rita sudah terlihat tenang, Dika pun kembali angkat bicara.


Mama Rita mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Hana... ya, dia harus melihat Papanya untuk yang terakhir kalinya." Ucap Mama Rita menyetujui ucapan Dika.


"Ayo kita pulang dan kembali datang dengan membawa Hana, Ma." Ajak Dika.


Mama Rita menghela nafasnya yang terasa berat lalu mengangguk menyetujui ucapan Dika. "Ayo." Balas Mama Rita lalu bangkit dari duduknya.


Dika mengangguk dan membiarkan Mama Rita berjalan lebih dulu di depannya.


"Hana... aku harap kau bisa meruntuhkan kerasnya egomu setelah mendengar kepergian Papamu. Aku tahu kau bukanlah wanita sekeras itu. Aku tahu luka yang ditorehkan Papam sudah begitu dalam hingga kau begitu sulit untuk menyembuhkannya." Gumam Dika seraya terus berjalan di belakang tubuh Mama Rita.


Saat berada di depan rumah sakit, Dika dan Mama Rita menghentikan langkahnya melihat Gerry dan William berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.


"Dika, bagaimana?" Tanya Gerry dengan nafas yang terdengar naik turun.


"Aku tidak berhasil." Ucap Dika dengan tatapan penuh arti.


***


Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.


Sambil menunggu BSM update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Takdir Setelah PerpisahanšŸ–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.